**Bermodal Rp400 Rb, Kini Omzetnya Rp80 Juta/Bulan


DERETAN seni kriya berupa pernik-pernik patung fiber rohani adalah keseharian yang dijumpai di rumah kerajinan patung rohani Malta The Real Icon yang lokasinya di sebelah selatan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.

Tempat ini milik pengusaha warga setempat Fransiskus Asisi Triatmojo,39. Dalam kesehariannya penampilan Triatmojo sederhana dan santai. Celana pendek dan kaus oblong adalah “baju kerja” favoritnya.

Penampilannya berubah sedikit necis kalau Tri sedang mengirim pesanan ke luar kota. Saat menemui harian Seputar Indonesia (SI),Tri hanya mengenakan kaus oblong kuning kehijauan dan celana pendek selutut warna senada. Beberapa kali telepon selulernya berdering dari konsumen maupun agen yang menanyakan perkembangan harga dan pesanannya. “Silakan masuk, kita santai saja di tengah, biar dingin,” ungkap Tri mengawali pembicaraan.

Setelah berada di ruang tengah, warga Ganjuran yang lebih dikenal dengan panggilan “Bagong Patung”itu lantas membuka cerita tentang usahanya menekuni kerajinan patung fiberglass (campuran resin dan silikon) dari awal sampai seperti sekarang.

Suami Brigita Dwi Sawitri ini memulai usaha membuat patung pada 1995. Tepatnya setelah Tri drop out (DO) sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Jurusan Seni Kriya karena tidak punya biaya kuliah. Selepas DO, Tri luntang-lantung ke sana-kemari sebelum akhirnya bekerja sebagai tukang airbrush di salah satu perajin patung fiber Lentera Yogyakarta. Namun, ia hanya menjalani pekerjaannya ini selama dua bulan. Setelah itu,Tri mencoba membuat patung fiber sendiri bermodalkan pengalaman singkat itu. Namun, belum terlintas untuk berbisnis membuat patung, hanya menyalurkan kreativitas dan hobi.

Hingga akhirnya pada 2000, Tri mulai menekuni dan merintis usaha patung fiber rohani dengan nama Malta The Real Icon. Saat mendirikanusahaini, Trihanya memilikimodal Rp400.000 dan tiga karyawan. “Idenya dulu berawal dari Gereja Ganjuran yang banyak didatangi para peziarah.Kemudian,saya mencobauntukbikinpatung- patungdan pernik-pernik dari fiber,” tuturnya. Di luar dugaan, peminat patung-patung fiber buatannya lumayan banyak. Selanjutnya bersama sang istri,Tri bahu-membahu menjalankan bisnis ini dengan berkeliling menawarkan patung fiber di gereja dan sekitarnya. Lambat laun,order pun berdatangan karena pembeli suka pada desain-desainnya.

Usaha Tri terus berkembang dan akhirnya mendapatkan kredit dari BRI.Untuk pertama kali Tri mendapatkan pinjaman modal Rp400.000. Modal ini untuk membeli kompresor seharga Rp250.000, untuk perputaran Rp100.000, dan sisanya untuk operasional. Saat itulah produk-produk Malta The Real Icon mulai membanjiri toko-toko rohani,baik yang berada di Jawa maupun luar Jawa. “Selain Yogyakarta, pelanggan produk saya ini datang dari Jakarta, Surabaya, Klaten, Manado, Flores hingga Pontianak,” kata ayah dua anak ini. Karena makin banyaknya pesanan, Tri akhirnya merekrut karyawan yang sebagian adalah tetangganya. Awalnya hanya tiga orang, kemudian menjadi 24 dan hingga sekarang jumlahnya sudah 50 orang.

Karyawan Malta the Real Icon diberi upah di atas upah minimum regional (UMR) dengan sistem harian. Tapi besar kecilnya upah tergantung dengan jenis dan kesulitan pekerjaan yang ditangganinya. Secara umum per hari rata-rata antara Rp30.000 sampai Rp50.000. Usaha yang dirintis dari nol dan mulai meroket itu pun luluh lantak setelah gempa dahsyat meng-guncang Yogyakarta dan sekitarnya 26 Mei 2006. Triatmojo pun nyaris patah semangat atas kejadian tersebut. Bagaimana tidak shock karena pesanan aneka patung fiber yang siap kirim semuanya remuk, begitu pula dengan gudang penyimpanan barang. Termasuk mobil operasional juga ikut rusak.Jika ditotal kerugian mencapai Rp200 juta lebih.

Namun, berkat pertolongan sahabat yang bersedia memberi pinjaman uang Tri mencoba membangun kembali dan menekuni bisnis menjual patung-patung religius itu. Dia pun diberi kemudahan mengambil/membeli barang bahan baku pembuatan patung fiber. “Untuk bahan baku ini, kami bayar setiap pengambilan bahan berikutnya dan sistem ini bertahan sampai sekarang,” paparnya.

Selain itu, selepas gempa dirinya juga mendapatkan pinjaman sebesar Rp100 juta. Atas bantuan temannya dan pinjaman modal dari BNI tersebut, sekarang ruang pamer (showroom) yang kecil di sebelah selatan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, penuh lagi dengan patung fiber yang siap dikirimkan ke pelanggan.

Hingga saat ini usaha Tri memiliki omzet penjualan rata-rata per bulan mencapai Rp90 juta dengan perputaran uang sebesar Rp50 juta per bulan. “Program kredit sangat membantu saya, apalagi untuk bunganya juga sangat rendah. Bahkan saya ditawari pinjaman lagi hingga Rp800 juta,” tuturnya. Salah satu faktor yang membuat usahanya berkembang pesat adalah upaya menanamkan kesalingpercayaan terhadap pelanggan. Sebab kebanyakan pemesan patung berasal dari luar Jawa seperti Papua, Nabire, Pontianak. Terutama toko-toko rohani maupun pesanan dari Roma dan suster di mana sistem yang ia terapkan ada order dulu baru dikirim. Tri punya cara khusus dalam pengembangan usaha, yakni dengan mengirim barang lebih banyak daripada yang dipesan.

Misalnya permintaan produk senilai Rp5 juta, maka dia akan kirim barang senilai Rp15 juta. Nah, sisa barang kemudian dijual dengan sistem kredit.Karena saling keper-cayaan inilah pesanan pun semakin lama semakin banyak. “Selain tidak takut kena tipu dengan sistem penjualan ini, saya pun optimistis usaha ini akan terus maju dan akan terus berkembang,” paparnya. Kini Tri tak hanya memproduksi patung-patung fiber yang religius, tapi mulai pula mengarah pada produk yang umum seperti pembuatan water pack. “Terakhir saya mendapatkan pesanan mengerjakan patung umum di Medan,” terangnya.

Untuk mengirimkan barang kepada pelanggan, Tri memiliki lima unit armada pengiriman sendiri di samping menggunakan jasa ekspedisi. Lima unit kendaraan sendiri untuk mengirimkan order jarak dekat, sedangkan yang jarak jauh menggunakan jasa ekspedisi. “Yang jelas untuk pengiriman ini,tergantung dari permintaan pelanggan. Tapi kebanyakan pelanggan minta dengan jasa ekspedisi, selain biayanya ringan, ongkosnya juga ditanggung oleh pemesan,” katanya. Menjelang Paskah,Tri kebanjiran order.Terutama pesanan patung jalan salib yang terdiri atas 14 set yang hanya ada satu dua pesanan.

Namun menjelang Paskah bisa naik mencapai enam hingga tujuh pesanan. Untuk patung jalan salib ini ada dua ukuran, yakni ukuran besar dan kecil.Untuk yang besar harganya Rp7 juta dan ukuran kecil Rp4 juta. Namun bukan berarti dalam menjalankan usaha patung fiber tersebut, Triatmojo tidak mempunyai hambatan atau kendala.Kendala pertama adalah kesulitan mencari tenaga kerja yang mempunyai keahlian dalam mengerjakan patung fiber. Tidak banyak orang yang mempunyai kreativitas dan inovasi dalam menciptakan patung.

Karena kendala itulah saat ini Triatmojo baru bisa mempekerjakan 50 dari target 200 karyawan. Padahal permintaan patung di pasaran terus meningkat. Akibatnya, Tri sangat kewalahan memenuhi permintaan pelanggan.
(Priyo Setyawan/Koran SI/rhs)

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s