**Meski Terserang DB, Jeremi Nekat Ikut Ujian


BANGKALAN – Akibat terserang penyakit Demam Berdarah (DB), salah satu siswa SMP Negeri 2 Bangkalan, Jeremi S Pratama, terpaksa mengikuti Ujian Nasional (UN) di ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) setempat. Beruntung, dia masih bisa ikut UN hingga tuntas meski harus dibantu dengan selang infus.

Sebelum mengikuti UN yang berlangsung sejak hari ini. Jeremi sendiri sudah menjalani perawatan medis di Klinik Lukas, akibat terserang DB sejak pekan lalu. Saat mengikuti UN, siswa asal Jalan Letnan Singosastro, Kecamatan Kota tersebut, ditemani oleh ibu kandungnya serta di jaga pengawas baik itu dari internal dinas, hingga tim pemantau independen.

Farah (35), ibunda Jeremi menyatakan, awal mulanya hanya mengalami gejala panas. Usai diperiksa di klinik medis, ternyata hasil yang diperoleh adalah terserang penyakit DB. Akhirnya, disarankan untuk menjalani rawat inap yang hingga kemarin masih belum juga sembuh.

“Berhubung hingga saat ini belum juga sembuh. Akhirnya terpaksa ikut ujian, daripada nyusul kan lebih berat,” katanya.

Farah menjelaskan, sebenarnya dia melarang anaknya untuk ikut ujian karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti penyakit kambuh dan kelelahan akibat ikut ujian. Berhubung yang bersangkutan memaksa untuk ikut, akhirnya dia luluh dan memperbolehkannya ikut UN.

Takut terjadi sesuatu, Farah sendiri langsung melakukan konsultasi dengan sekolah dan pihak klinik medis. Hasilnya tetap diperbolehkan ikut UN, dengan catatan harus di dampingi dan ditempatkan di ruang khusus yakni UK, terpisah dengan peserta ujian yang lain.

“Sebenarya saya tidak tega melihat kondisinya yang seperti ini. Tapi mau apalagi, karena ini juga keinginnya anak saya. Mudah-mudahan lancar,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala sekolah (Kasek) SMPN 2 Bangkalan, Edy Haryadi, menyatakan pihak sekolah hanya memfasilitasi, sekaligus mempermudah siswa yang sakit dalam ikut UN. Salah satunya dengan memberi tempat khusus, yakni bagi siswa yang menderita penyakit DM.

Untuk aturan, dia mengaku tetap sesuai ketentuan, termasuk bagi peserta yang sakit. Di mana yang bersangkutan masih tetap mendapat pengawasan, baik itu dari pihak sekolah maupun dari tim pemantau independen.

“Tidak ada perlakuan khusus, semua peserta sama dan dijaga oleh pengawas. Termasuk yang sakit juga diawasi oleh tiga orang,” tambahnya.

Edy menambahkan, meski dijaga oleh pengawas, pihaknya tetap memberikan kelonggaran bagi orang tuanya untuk mendampingi, dengan catatan ada di luar ruangan.”Itu dilakukan untuk mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan,” tegasnya.
(Subairi/Koran SI/fit)

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s