**Partai Buruh Israel Ingin Keluar Koalisi


YERUSALEM – Perpecahan tampaknya terjadi dalam pemerintahan Israel. Partai Buruh akan bertemu bulan depan untuk mendiskusikan rencana keluar dari koalisi pemerintahan Israel. Langkah itu diumumkan Menteri Sosial Israel Isaac Herzog di radio kemarin.

Rencana itu muncul di tengah perselisihan antara Israel dan Amerika Serikat (AS) terkait pemukiman Yahudi. “Blok parlemen kami akan bertemu setelah Passover (perayaan Paskah kaum Yahudi) untuk meninjau ulang partisipasi kami dalam koalisi pemerintahan,” ucap Isaac Herzog.

Hari libur Passover selama sepekan merupakan peringatan eksodus kaum Yahudi dari Mesir yang dimulai pada saat matahari tenggelam pada Senin (29/3).

“Kami akan mempertimbangkan partisipasi kami dalam pemerintahan dengan mengkaji program politiknya. Saya akan merekomendasikan bergabung pemerintahan Kadima,” ujar Herzog, merujuk pada partai sayap tengah yang dipimpin mantan Menteri Luar Negeri Israel Tzipi Livni.

“Israel menghadapi situasi internasional dan ancaman dari Iran. Ini memerlukan perubahan struktur koalisi pemerintahan,” kata Herzog.

Awal bulan ini, anggota Partai Buruh lainnya, Menteri Pertanian Israel Shalom Simhon menyatakan, partainya mempertimbangkan untuk keluar dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu karena adanya perselisihan dengan AS.

Simhon mengkritik pengumuman rencana pembangunan 1.600 rumah baru untuk pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur saat kunjungan Wakil Presiden AS Joe Biden. Menurut Simhon, konflik yang terjadi antara Israel dan AS merupakan “kesalahan buruk.”

Jika Partai Buruh keluar dari pemerintahan, koalisi berkuasa yang dipimpin Netanyahu hanya memiliki mayoritas tipis 61 kursi dalam 120 kursi parlemen Israel atau Knesset. Situasi ini tentu membahayakan stabilitas pemerintahan Netanyahu.

Banyak warga Israel khawatir, konflik antara AS dan Tel Aviv akan menghalangi upaya internasional mencegah pengembangan nuklir Iran. Israel menganggap nuklir Iran sebagai ancaman terbesar.

Sementara kemarin, penasehat senior Gedung Putih David Axelrod menjelaskan, Presiden AS Barack Obama tidak menyambut hangat PM Israel Benjamin Netanyahu saat keduanya bertemu di Gedung Putih pekan lalu.

Obama bertemu Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa (23/3), tapi tidak menggelar makan malam bersama PM Israel tersebut. Keduanya hanya menggelar pertemuan tertutup dan Obama menolak foto bersama Netanyahu.

Berbagai pertanyaan muncul di sejumlah blog dan saat konferensi pers Gedung Putih tentang sikap yang ditunjukkan pemerintah AS untuk mengkomunikasikan kekecewaannya terhadap Netanyahu yang meneruskan pembangunan pemukiman Yahudi di Yerusalem Timur.

“Ini merupakan pertemuan kerja antar teman. Sehingga di sana tidak ada maksud menghina,” papar Axelrod pada program berita State of the Union CNN.

Axelrod menandaskan, kedua pemimpin bertemu secara pribadi selama dua jam dan dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya tanpa risau dengan protokoler.

“Ini bukan tentang formalitas. Ini tidak tentang pertemuan seremonial. Ini pertemuan kerja. Kami tetap memiliki kepentingan untuk keamanan Israel. Dan kami yakin proses perdamaian penting untuk itu. Dan kami melakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk membuat proses semakin maju,” katanya. (Koran SI/Koran SI/Koran SI)(//faj)

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s