**Sel Surya Murah Pakai Film Anti reflektif


Pembuatan sel surya memerlukan biaya besar. Dengan mengkreasikan film antireflektif dari zinc oxide di dalam sel surya, ongkos pembuatannya bisa ditekan.
Senin (7/12), utusan dari sekitar 190 negara berkumpul di Kopenhagen, Denmark dalam rangka konferensi perubahan iklim PBB. Begitu pentingnya isu perubahan iklim itu sehingga perlu dibahas secara khusus dalam sebuah konferensi berskala internasional. Tidak dapat dimungkiri perubahan iklim dunia telah mencapai tahap yang memprihatinkan dan mengancam kehidupan umat manusia.
Ancaman itu diperkuat dengan data dari Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai perubahan suhu permukaan laut di seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan data tahun 1980 sampai 2002 yang diperoleh dari 33 stasiun pemantau, diketahui terjadi kenaikan suhu di Denpasar, Bali, sebesar 0,087 derajat celcius per tahun. Di Polonia, Medan, Sumatra Utara terjadi kenaikan suhu sebesar 0,172 derajat celcius per tahun.
Dalam skala global, peningkatan suhu pada abad ke-21 telah mencapai dua sampai 4,5 derajat celcius akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Salah satu penyebab meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer ialah besarnya emisi gas karbondioksta yang dihasilkan dari kendaraan bermotor dan industri skala besar.
Kontribusi emisi karbondioksida di atmosfer saat ini bahkan telah mencapai 387 part per million (ppm) dan tiap tahunnya terus meningkat. Untuk mengurangi kadar pencemaran udara dari emisi karbondioksida, pemanfaatan sumber daya energi terbarukan terus dikembangkan.
Model-model pembangkit listrik tenaga surya, tenaga air, atau tenaga angin terus diperbarui agar pemakaiannya semakin efisien bisa dimanfaatkan secara massal. Hal itulah yang melatarbelakangi Ertyta Septa Rosa, Peneliti nanoteknologi dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (UPI) ini membuat film antireflektif dalam sebuah panel sel surya dengan menggunakan bahan yang hemat biaya.
Saat ini panel sel surya telah dikenal khalayak sebagai salah satu sumber pembangkit energi listrik yang ramah lingkungan dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh penga-plikasian sel surya ialah pada lampu lalu lintas yang ada di setiap setiap persimpangan jalan. Contoh lainnya, lampu-lampu pada papan iklan di sentra-sentra jalan protokol serta menara BTS juga memanfaatkan energi sinar matahari. Meski ramah lingkungan, biaya pengembangan dan pemasangan sel surya terbilang masih mahal.
Karena itu tidak heran jika partikel. Umum diketahui, cahaya yang tampak maupun yang tidak tampak memiliki dua sifat, yaitu mampu berperan sebagai gelombang dan sebagai partikel yang disebut dengan photon.
Dengan dua perangkat semikonduktor itu, cahaya yang datang akan mampu diubah menjadi energi listrik.
Panel surya memiliki beberapa tipe. Tipe pertama, jenis wafer berlapis silikon kristal tunggal. Tipe itu dalam perkembangannya mampu menghasilkan efisiensi yang sangat tinggi.
Namun, di sisi lain panel surya berlapis silikon kristal tunggal harganya sangat mahal sehingga sulit untuk dijual ke pasaran. Hal itu mengakibatkan panel sel surya yang dihasilkan tidak sebanding dengan energi alternatif yang dihasilkan.
Seiring perkembangan waktu, L| n wafer bersilikon kristal C tunggal tergerus tipe wafer silikon poli kristal. Wafer silikon poli kristal dibuat dengan cara membuat lapisan-lapisan tipis dari batang silikon dengan metode wire-sawing (pemotongan kawat).
Masing-masing lapisan memiliki ketebalan sekitar 250.350 mikTometer. Harga pembuatan sel surya tipe itu lebih murah meskipun tingkat efisiensinya lebih rendah jika dibandingkan dengan silikon kristal tunggal.
Teknologi yang dikembangkan oleh Erlyta merujuk pada sel surya dengan silikon multi kristal. Sel surya itu memiliki tebal 75 nateknologi tersebut hanya bisa dimanfaatkan oleh beberapa pihak yang memiliki modal besar, seperti pihak swasta atau perusahaan BUMN. Biaya terbesar biasanya untuk pembuatan bahan silikon dan film antireflektif.
Pembuatan Sel Surya
Sel surya atau sel photovoltaic merupakan sebuah alat semikonduktor yang memakai prinsip dioda p-n junction (sebuah penggabungan dua semikonduktor dengan tipe p dan tipe n). Penggabungan itu mampu menghasilkan energi listrik saat cahaya matahari menyinari alat semikonduktor. Efek perubahan itu disebut efek photovoltaic.
Cara kerja sel surya murni memanfaatkan teori cahaya sebagai nometer dan panjang gelombang 600 nanometer.Panel itu menekankan adanya penambahan tekstur pada permukaan sel yang membuat silikon mampu menyerap cahaya, trik yang dapat digunakan pada perangkat silikon berkristal tunggal.
Namun, karena menggunakan banyak kristal, permukaan yang kasar dapat menyebabkan cahaya ii” in.a ri nl saat masuk ke dalam sel dan tidak merefleksi kembali saat keluar. Andalkan memantul, cahaya akan sangat lemah dan tidak terserap maksimal ke dalam silikon, padahal silikon dapat memberikan energi maksimal apabila cahaya dapat bertahan lama di dalamnya.
Erlyta kemudian memasang antireflektif film yang membuat cahaya bisa bertahan lebih lama dalam silikon sehingga mampu mertyumbangkan energi secara optimal. Film antireflektif itu dimasukkan ke dalam sebuah screen printing (seperti teknik pembuatan sablon) dan di permukaannya dipaparkan sebuah zinc teroksidasi (ZnO). Zinc tero-ksidasi merupakan bahan yang reflektif terhadap cahaya dan terbuat dari logam tetapi telah teroksidasi.
Erlyta memilih ZnO karena bahan itu memiliki efektivitas dan efisiensi yang lebih bagus daripada titan i ik Mil.i yang berupa serbuk yang selama ini digunakan dalam panel sel surya.Titan oksida juga dianggap kurang efektif karena selama ini bahan itu diimpor dari luar negeri sehingga membutuhkan biaya pengadaan yang cukup besar. Alasan lain pemilihan ZnO ialah bahan itu mudah dikembangkan dan harganya relatif murah.
Dari beberapa kelebihan yang dimilik ZnO, bahan itu juga mengandung kekurangan. Salah satu kekurangan itu ialah ZnO .terbilang langka daojmahaL apabila hendak diaplikasikan pada satu panel sel surya. Oleh karena itu, Erlyta mengakalinya dengan memakai zinc acetate dihydrate (ZnAc) yang dipanaskan pada suhu 300 sampai 600 derajat celcius sehingga menjadi ZnO.
Jika dibandingkan dengan panel surya yang tidak menggunakan hlm antireflektif, panel silikon multikristal buatan Erlyta 17 persen lebih efisien. Jika diko-mersialisasikan, sel surya hasil pengembangan Erlyta harganya hanya mencapai 10 ribu rupiah per watt. hag/L 2

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s