**Pasar Ponsel Tenaga Surya Masih Misterius


Kehadiran ponsel bertenaga alternatif di Indonesia masih sangat minim jika dibandingkan dengan serbuan ponsel baru dengan tenaga konvensional yang tak mengenal waktu. Padahal, kehadiran ponsel ini salah satu cara untuk menghemat energi.

Menurut Hioe An Kin, Head of Mobile Departement Samsung Electronics Indonesia, masih sepinya vendor yang bermain di segmen ini bukan berarti mereka tak mempersiapkan atau mengembangkan teknologi pengisian baterai alternatif.

Hanya saja, lanjutnya, mereka terkesan masih wait and see terhadap pasar ponsel Indonesia. Apakah sudah siap untuk menyerap produk-produk tersebut atau tidak.

Hal ini pula yang sempat mendera perusahaan asal Korea Selatan ini. Samsung sampai saat ini pun menganggap pasar ponsel Indonesia masih menyimpan misteri untuk permintaan akan ponsel bertenaga alternatif.

Alhasil, ketika memiliki beberapa produk ponsel bertenaga alternatif, seperti tenaga surya, Samsung lebih memilih untuk pelan-pelan dalam membaca ritme pasar. Mereka tak mau langsung gencar dalam memasarkan produk-produk hemat energi itu.

Buktinya, Samsung baru meluncurkan satu model ponsel bertenaga surya miliknya — E1107 (Crest Solar) — di Indonesia. Padahal, pada ajang CommunicAsia 2009 di Singapura lalu, ada beberapa ponsel tenaga surya yang mereka pamerkan. Terlebih setiap tahunnya, Samsung memproduksi sekitar 400 ponsel.

“Pasar Indonesia masih belum jelas untuk ponsel bertenaga alternatif ini, karena brand-brand besar masih belum masuk. Makanya kita mau melihat respon pasar dulu,” ujar Hiue kepada beberapa wartawan di sela peluncuran produk baru Samsung di Hotel Four Season, Jakarta (6/8/2009).

Selain Samsung, perusahaan yang cukup percaya diri dengan peluang ponsel tenaga surya di Indonesia adalah Indosat. Ponsel besutan operator telekomunikasi ini bernama Ponsel Gaya, yang diambil dari Telepon Seluler (Ponsel) Gaya (TenaGa SurYa).

Ponsel Gaya direncanakan akan digunakan untuk mendukung program Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok/RDKK Online Dekopin (Dewan Koperasi Indonesia) bagi petani Indonesia.

Mahal dan Gengsi

Lantaran ada tambahan alat di dalamnya, harga ponsel tenaga surya relatif lebih mahal dari ponsel konvensional. Hal itu bisa dimaklumi, sebab dana riset yang dibutuhkan untuk membuat ponsel ini dianggap lebih besar.

Hanya saja, ponsel ini memiliki sesuatu yang ‘unik’ yang bisa dijadikan sebagai nilai tambah. Yaitu, pengisian baterainya yang tak bergantung pada listrik.

Nah, hal inilah yang diyakini Hioe akan menjadi daya jual utama. “Yaitu menjadi suatu gengsi di masyarakat,” tukasnya.

Ya, Hiao dan Samsung boleh saja berspekulasi. Namun, penilaian terakhir harus dikembalikan lagi kepada masyarakat. Mau atau tidak menerima ponsel tenaga surya yang diharapkan dapat menghemat energi sebagai pilihan mereka. ( ash / faw )

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s