**Demonstrasi Pilihan Cerdas Gerakan Protes


Tulisan ini untuk menanggapi tulisan yang dibuat oleh saudara Muhammad Takdir pada Senin (8 Maret 2010) dengan judul Demo Pilihan Demokrasi Primitif. Jujur, sebagai seorang anak jalanan, seorang anak yang mengerti dan paham akan berbagai permasalahan bangsa, serta banyak melakukan tindakan protes berupa aksi-aksi jalanan, saya menjadi “tergelitik” untuk membuat bantahan atas tulisan saudara Takdir tersebut.

Jujur, berdasarkan analisa pribadi saya atas tulisan tersebut, saya mendapati bahwa penulis tidak menyadari dengan benar esensi dan substansi dari sebuah aksi. Penilaian-penilaian yang penulis ambil, menurut pendapat saya, cenderung subyektif dan tidak integral. Dalam artian tidak menilai esensi aksi dari semua kasus aksi yang pernah ada.

Saya mendapati bahwa penulis mengambil kesimpulan akan hakikat dari suatu aksi berdasarkan contoh kasus aksi pada beberapa daerah, dan rentang periode tertentu. Dan bahkan kesan yang saya dapat bahwa penulis seakan-akan ingin menegasikan hasil aksi jalanan, yang salah satunya begitu berjasa dalam mengantarkan Indonesia ke gerbang pintu demokrasi yaitu aksi yang menggulingkan Rezim Orde Baru.

Demonstrasi dalam teorinya memiliki dua tujuan utama. Sebagai sarana propaganda kepada publik akan sikap yang telah diambil oleh pelaksana demonstrasi terhadap suatu kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Serta, sebagai bentuk tekanan kepada pemerintah agar mengganti kebijakan tersebut dengan kebijakan yang diinginkan.

Dalam tataran filosofis dasar pemikiran dari suatu aksi jalanan hampir semuanya baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada pun aksi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan landasan filosofisnya disinyalir aksi tersebut digalang oleh segelintir elit yang memiliki modal dengan menggerakkan massa yang kurang cerdas untuk bergerak sesuai dengan keinginan mereka agar menyuarakan kepentingan mereka. Sehingga, seolah-olah kepentingan mereka juga ikut mewakili kepentingan sebagian masyarakat.

Namun, dari keanomalian aksi tersebut (aksi dengan landasan filosofi yang tidak atau kurang bisa dipertanggungjawabkan) kita dapat mengambil kesimpulan bahwa aksi jalanan masih menjadi alternatif terbaik dalam menyuarakan sikap. Hal ini kembali diperkuat dengan pengalaman saya dan rekan-rekan saya ketika berkunjung kepada tokoh-tokoh tertentu. Baik tokoh ekstra maupun intraparlementer yang menyatakan bahwa mereka membutuhkan dukungan moral dari masyarakat berupa aksi jalanan karena hal itu merupakan bukti konkrit akan dukungan masyarakat terhadap perjuangan mereka.

Hal ini tentu juga dengan pertimbangan dan pemahaman mereka sendiri bahwa aksi jalananlah yang menjadi bentuk protes paling kuat untuk mengganti suatu kebijakan. Sejarah mencatat bahwa memang aksi jalanan adalah bentuk protes paling konkrit untuk mengganti suatu kebijakan.

Bahkan, ekstrimnya aksi jalanan dapat dijadikan sebagai sarana untuk meruntuhkan suatu rezim. Hal ini telah terbukti di Indonesia beberapa kali. Mulai dari aksi massa dalam menggulingkan rezim Orde Baru hingga aksi massa di daerah yang menggulingkan pemerintah di daerahnya. Mantan Bupati Garut, Agus Supriadi, adalah salah satu tokoh yang telah merasakan efektivitas dari aksi jalanan tersebut.

Di belahan bumi lain juga masih bisa kita saksikan secara gamblang efektivitas dari suatu aksi jalanan. Di Korea Selatan, presidennya harus mengubah kebijakan impor daging dari Amerika Serikat setelah satu juta rakyatnya melakukan aksi mogok di Ibu Kota Seoul. Di Venezuela, atas bantuan rakyat secara langsung, Hugo Chavez dapat kembali duduk di kursi kepersidenan setelah sebelumnya dipaksa lengser oleh militer.

Memang, ada aksi-aksi jalanan yang juga tidak membuahkan hasil. Contoh mudahnya adalah bagaimana George W Bush Jr dengan begitu pongahnya mengabaikan suara rakyat Amerika yang menuntut penarikan tentara mereka dari Irak dan Afgganistan. Juga, suara-suara aktivis demokrasi di Rusia dijawab enteng oleh Vladimir Putin dengan penjeblosan ke penjara. Meskipun begitu statistik sejarah membuktikan aksi jalanan menjadi bentuk protes yang paling efektif.

Jujur saya masih bingung dengan pernyataan saudara Takdir yang menyatakan bahwa ekspresi berpendapat melalui media-media seperti facebook, twitter, dan lainnya lebih cerdas, aman, dan efektif. Logika manakah yang dipakai. Dan, bisakah saudara membuktikannya melalui data-data empiris. Sepertinya saudara Takdir tidak mengetahui bahwa dalam kasus-kasus seperti Prita vs RS Omni, Cicak vs Buaya, dan kasus delegitimasi KPK memang ada penggalangan dukungan melalui media-media tersebut.

Saya menjadi salah satu pemain dalam penggalangan dukungan dalam media-media tersebut bersama rekan-rekan saya yang lain. Meskipun begitu penggalangan dukungan tersebut tetap difinalisasi melalui suatu aksi jalanan oleh satu atau beberapa golongan masyarakat. Aksi jalanan tetap kami lakukan sebagai bukti kepada penguasa saat ini bahwa galangan dukungan yang kami perjuangkan via media-media tersebut adalah memang ada dan nyata. Tidak sekedar manifestasi kecerdasan kami dalam memanfaatkan media masa kini.

Memang permasalahan utama dari suatu aksi jalanan terletak pada wilayah teknis. Di sini pengusung demo dituntut untuk secerdas mungkin mengatur bentuk aksi jalanan agar pelaksanaan aksi dapat teratur, meraih simpati massa, dan yang lebih penting, pesan aksi tersampaikan kepada obyek yang dituju. Dalam hal ini adalah pemegang kekuasaan. Entah itu disampaikan langsung atau tersampaikan via media massa yang meliput aksi.

Dan dalam wilayah ini saya juga menjadi salah satu pemeran utama dalam mengkoordinir beberapa aksi yang kami lakukan. Dalam merekayasa aksi tersebut kami sangat mempertimbangkan psikologi massa kami, dan masyarakat yang nantinya akan menyaksikan secara langsung aksi jalanan kami. Termasuk beberapa pertimbangan lain seperti ada tidaknya elemen lain yang akan aksi, pengawalan yang dilakukan oleh pihak kepolisian, dan sebagainya.

Hal itu akan sangat memengaruhi bentuk dan teknis aksi kami. Seperti rute yang akan kami tempuh, orasi-orasi yang akan kami suarakan, tempat yang akan kami tuju, hingga perlu tidaknya kami membentuk border massa aksi. Itu semua kami pertimbangkan sebelum memulai aksi. Dan, itulah mengapa aksi-aksi jalanan yang saya dan rekan-rekan saya lakukan selalu berujung pada keharmonisan dan kedamaian.

Memang tidak saya pungkiri adanya rekan-rekan saya sesama mahasiswa yang terkadang menghendaki demonstrasi yang anarki dan berujung pada keadaan yang chaos. Namun, saya mendapati di lapangan bahwa terkadang keadaan anarki tersebut direkayasa dan diprovokasi oleh oknum-oknum tertentu di luar massa aksi yang menghendaki hal-hal demikian.

Tidak berarti bahwa massa mereka “menghendaki darah” seperti yang saudara Takdir utarakan. Namun, hal itu memang terjadi dikarenakan kendala-kendala yang tidak terjangkau oleh mereka dalam penyusunan prosedur aksi mereka. Saya merasa bahwa saudara Takdir sangat kejam dengan menjustifikasi rekan-rekan saya tersebut “menghendaki darah” seolah-olah mereka “haus akan darah”.

Akhir kata, saya hanya ingin menyarankan kepada saudara Takdir untuk bergabung sesekali ke dalam massa aksi yang saya dan rekan-rekan saya rekayasa. Dengan bergabung ke dalam massa aksi kami, Insya Allah saudara Takdir akan lebih terbuka dan memahami hakikat suatu aksi jalanan. Semoga tulisan ini dapat membantu pemahaman para pembaca sekalian akan urgensi dari suatu aksi jalanan. Sekaligus menjadi penjelas akan keberjalanan suatu aksi mulai dari awal hingga akhir.

Ilham Arif NST
Jl Kebon Bibit Utara No 99/58 Bandung
ilhamnst@yahoo.co.id
085221416831

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s