**Embun Kesulitan


Saya kaget dan terbangun dari tidur ketika jam 03.00 pagi itu ada yang mengetuk pintu. “Rumahku kebanjiran, boleh aku mengungsi di sini ?” kata seorang rekan kerjaku. Sementara hujan di luar masih terus mengguyur. Kupersilahkan dia masuk, dan bergegas aku ke dalam mengambilkan pengganti buat bajunya yang sudah kuyub. Ditemani secangkir teh untuk menghangatkan badan, saya temani dia ngobrol menunggu subuh.

“Wah, habis dah gua” katanya. “Komputer terendam air, tugas-tugas yang gua kerjain selama ini hanyut entah kemana, sementara baju tinggal yang gua bawa tadi. Nggak tau dech mau gimana nich besok kerja” sambungnya. Dan berikutnya, segala keluh kesahnya meluncur dihadapan saya. Dari rumahnya yang tinggal kelihatan atapnya, uang yang dia kumpulkan sedikit demi sedikit hilang tak tahu rimbanya, kekuatiran akan hidupnya esok hari, ketakutan akan hilangnya pekerjaan dengan ikut hilangnya berkas-berkas proyek yang dia buat selama ini. Tergambar diwajahnya mendung menyelimuti hari-hari depannya. Antara kesedihan, kekuatiran, ketakutan, kebingungan dan keputusasaan bercampur jadi satu.

Tapi memang dasar saya orangnya suka bercanda, saya hanya menanggapi “Tapi kamu masih bisa bernafas, ‘kan ?” kata saya setengah meledek. “Ya, iya” jawabnya. “Masih bisa melihat ‘kan ?” tanya saya lagi. “Iya” jawabnya pendek. “Masih bisa jalan ? tentu iya, karena kamu bisa datang ke sini” kata saya. “Iya..iya… apa sich maksud lu nanya-nanya gitu?” jawabnya dengan sedikit kesal. “Nah” kata saya “Menurut saya, berarti kamu masih punya segala-galanya, yang hilang mungkin hanya harta kamu. Jadi, jangan kau hilangkan juga akal sehat kamu, jangan kau hilangkan semangat kamu, dan terpenting jangan hilangkan keimanan kamu”. Sementara dari corong pengeras suara musholla samping rumahku sudah terdengar adzan subuh memanggil. Kami pun segera beranjak menyambutnya.

***

Kita semua berhasil melalui masa-masa sulit dalam hidup ini, seperti ketika kita kesepian, tidak bisa membayar tagihan, kebanjiran, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai. Sewaktu mengalami masa-masa seperti itu, kita bertanya-tanya bagaimana kita bisa bertahan sampai minggu berikutnya. Entah bagaimana kita biasanya bisa mengatasinya! Kita mungkin kehilangan pandangan, dan memandang keadaan kita jauh lebih buruk daripada yang sebenarnya. Sementara itu, masa depan tampak bagaikan tambang masalah. Kita pun bertanya-tanya bagaimana manusia sanggup mengatasi kesulitan yang sedang kita hadapi.

Seseorang yang hendak berjalan-jalan seharian akan tampak konyol jika membawa perbekalan untuk seumur hidup. Hal ini sama anehnya dengan orang-orang yang membawa semua kekhawatiran mereka selama dua puluh lima tahun berikutnya, lalu bertanya-tanya mengapa hidup terasa begitu sulit. Kita sudah dirancang untuk hidup dua puluh empat jam sehari. Tidak lebih. Tak ada gunanya membayangkan masalah-masalah esok hari pada hari ini.

Mungkin cara terbaik untuk merasa senang dengan diri kita sendiri adalah dengan melakukan sesuatu untuk orang lain. Kekhawatiran berlebihan dan sikap mengasihani diri sendiri timbul dari pikiran yang terfokus pada diri sendiri. Begitu kita mulai membuat orang lain bahagia, entah hanya dengan melempar senyuman atau sekedar menyapa atau meluangkan waktu untuk mereka, kita akan merasa lebih baik! Itu otomatis, sederhana, dan sangat menyenangkan.v Kesulitan tidak akan begitu sulit jika kita mengatasinya sedikit demi sedikit. Selain itu semakin cepat kita menyadari hikmah yang kita peroleh dari pengalaman itu, semakin mudah bagi kita untuk menghadapinya.

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s