**Mencintai Keindahan


Erich Fromm dalam bukunya ‘The Art of Loving’ menulis bahwa para manusia modern sesungguhnya adalah orang-orang yang menderita. Penderitaan tersebut diakibatkan oleh kehausan mereka untuk dicintai oleh orang lain. Mereka berusaha keras untuk melakukan apa saja agar dapat dicintai. Tidak sedikit remaja yang terjerumus pergaulan bebas karena mereka ingin dicintai dan diterima oleh kawan sebayanya. Banyak kaum wanita yg ‘bertabaruj’ karena mereka ingin mendapat perhatian dari lawan jenisnya. Para politikus pun tidak segan-segan berdusta dan menipu agar dicintai para pengikut dan pendukungnya.

Dalam ‘Manthiq Al-Thayr’ atau Musyawarah para burung, Fariddudin Attar berkisah tetang burung Bulbul yang begitu mencitai mawar sehingga ia berkata, ‘Cukuplah bagiku keindahan mawar itu. Kuyakin sepenuhnya mawar itu akan selalu mengembangkan putik-putik sarinya karena kecintaannya jua kepadaku. Aku tak bisa hidup jika harus meninggalkannya. Aku tak mau hidup bila tak dapat lagi memandang rekahan mawar itu.’

Namun kemudian burung Huhud yang menjadi penyampai pesan dari Nabi Sulaiman kepada ratu Bilqis menasehatinya, ‘Ketahuilah kecintaanmu terhadap mawar itu adalah kecintaan yang palsu. Jangalah engkau terpesona dengan keindahan lahiriah. Mawar hanya merekah dimusim semi. Begitu tiba musim gugur maka mawar itu akan menggugurkan kelopaknya. Ia akan menertawakan cintamu…’

Melalui kisah tersebut Fariddudin ingin menggambarkan bahwa sesungguhnya kecintaan terhadap mahluk itu adalah bersifat sementara. Karena barometer yang dipakai adalah unsur keindahan sang mahluk. Cinta itu akan sirna tatkala tidak dijumpai lagi keindahan didalamnya.

Memang sering kali kita terperangah dan takjub melihat sesuatu yang indah yg tertangkap oleh kedua mata kita, sehingga membuat mata kita silau yg pada akhirnya justru kita terbuai oleh keindahan itu sendiri…

Tentu tidaklah salah kita belajar mencintai keindahan, karena Sang Pencipta keindahan justru mengajarkan kita untuk mencintai keindahan. ‘Innallaha jamilun yuhibbul jamaala…’ Namun kesalahan terjadi tatkala kita mencintai keindahan melebihi cinta kita kepada Sang Pemilik keindahan. Seharusnya justru keindahan itu sendiri akan membawa kita lebih mencintai Sang Pemberi keindahan.

Semoga apa-apa yg diberikan olehNYA yang tak berhingga kepada kita dapat menambah rasa syukur kita yg ternyata sangat berbilang terbatas ini. Dan semoga kisah dibawah ini dapat memberikan nuansa lain didalam
mengembaraan jiwa kita untuk menggapai cintaNYA

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s