**Kisah Klasik Hidup Di Aceh


Assalaamu’alaikum,

Maaf sekali baru sekarang saya bisa kirim email lagi. Wah, beberapa hari di Aceh (21-25 April) benar-benar luar biasa dan sepertinya akan mempengaruhi kehidupan saya selanjutnya (serius nih). Mau diceritakan nggak?

Hari pertama saya naik pesawat Garuda ke Aceh bareng Emha Ainun Najib, Novia, Rendra dan Ken Zuraida. Begitu sampai jam 11.00 kami langsung briefing bareng Taufik Ismail, Ati Ismail, Hammid Jabbar, Herry Dim, Jajang C. Noer dan beberapa sastrawan Aceh seperti Hasyim KS, Maskirbi, dll. Kami menyadari betul Aceh dengan luka yang begitu nganga sangat berbeda dengan daerah lainnya yang pernah didatangi oleh para sastrawan dalam program SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) sebelumnya. Saat menyadari luka itu Pak Taufik menangis, saya dan teman-teman pun begitu, apalagi Rendra. Ketika itulah tiba-tiba Mas Willy (Rendra) dengan suara bergetar berkata,” Emha…tolong ceritakan pada saya, pertama kali Rasul SAW masuk ke kota Mekkah…, tiba-tiba saya begitu ingin, begitu rindu untuk mendengarnya….”

“Tapi kita lagi brifing soal acara kita, Mas…,” kata Mas Emha.

“Tolong, tolong ceritakan…saya tiba-tiba ingin sekali mendengarnya…,” Mas Willy terisak-isak.

Duh, saya terharu sekali. Akhirnya Mas Emha cerita soal futuh Mekkah. Terus Mas Willy berkata begini: “Sungguh, saya takut mengatakan atau menyampaikan hal yang salah di sini. Saya tidak mau mengatakan hal-hal yang membuat Allah marah. Saya hanya ingin mengatakan ssesuatu yang diridhoiNya…,” airmatanya masih berlinangan. Terang saja tangis saya tambah kencang. Ini sisi-sisi Mas Willy yang tidak saya ketahui sebelumnya.

Selesai brifing dan makan siang, kami mengisi acara di MAN I Banda Aceh. Masya Allah…mereka begitu antusias. Lapangan itu seakan-akan pecah oleh sambutan mereka. Begitu besar pengharapan mereka kepada kami…bahkan untuk menuntaskan masalah Aceh. Sedih sekali.

Lantas Mas Emha bilang: “Apa yang kami bisa selain berkarya dan berdoa. Bulu ketiak Ayu Azhari atau Kris Dayanti lebih berharga dibandingkan kami para sastrawan. Ketombe bahkan lebih dihargai daripada kami! Anda semua dapat menghitung…berapa kali kami masuk koran atau televisi dibandingkan bulu ketiak tadi dan ketombe….”

Sementara pada spanduk-spanduk di jalan dan di koran-koran kami jumpai tulisan seperti ini:

Selamat datang di serambi Mekkah, Sastrawan Nasional dan Kawan-kawan….
Si Burung Merak: WS. Rendra
Si Kyai Mbeling: Emha Ainun Najib,
Encek Hammid Jabbar
Si Sajadah Panjang: Taufiq Ismail,
Si Siti Nurbaya: Novia S. Kolopaking,
Si Arifah: Jajang C. Noer,
Si Sholihah: Helvy Tiana Rosa
………………………..

Pulang dari MAN I sudah maghrib. Usai mandi dan sholat kami makan malam di rumah makan Aceh. Nikmat sekali…itu lho…mie kuah Aceh plus udang yang besar-besar. Sepanjang makan itulah, bersama para sastrawan Aceh kami berdiskusi. Pada saat itu Mas Emha cerita berbagai hal tentang Gus Dur. Yang paling saya ingat adalah perkataannya: “Sekarang kalau saya mau ketemu Gus Dur selalu dihalang-halangi.” atau “Saya nanti temenan lagi sama Gus Dur kalau ia sudah tidak jadi presiden” atau: “Ketika Gus Dur sadar…mungkin ia sudah masuk jurang….”

Ketika tiba di hotel (saya sekamar dengan Jajang C Noer, istri almarhum Arifin C. Noer), hampir tiap lima belas menit telpon berdering (setidak-tidaknya hingga menjelang sebelas malam). Telpon itu untuk saya. Jajang sampai berkata: “Gue malu lho, Vy…gue nggak kenal elu sebelumnya. Gila, lo lebih terkenal di sini dibandingkan gue….”

Saya cuma nyengir dan menarik napas panjang. Oplah Annida—majalah yang saya kelola— di Aceh memang 800 eksemplar lebih.

Berulang kali saya menerima telepon malam itu. Isinya berbeda satu sama lain, tapi seperti mengiris-iris kuping saya, antara lain sbb:

“Assalaamu’alaikum…, Mbak Helvy? Mbak, nama saya Aini (menangis). Rumah saya sudah dibakar dua kali…saya …(serak, tersendat-sendat).

atau:

“Halo, Cut Da (Kakak) Helvy…, cut da, saya Ina…saya pernah di…di…(lirih sekali) di…perkosa. Tapi… kalau saya mengadu, keluarga saya akan dibunuh…(menangis). Tolong saya, Cut da….

dan:

“Kak Helvy? Maaf mengganggu…saya ingin kakak tahu. Ayah saya diculik, sampai sekarang saya belum bertemu lagi (serak, tersendat-sendat). Tolong kakak sampaikan pada orang-orang Jawa, pada orang-orang Jakarta, rakyat Aceh cuma mau aman, cuma ingin tentram. Tak peduli merdeka atau tidak…kami hanya ingin…(terputus-putus). Saya…Imran, Kak!”

Lalu:

“Kak Helvy…tolonglah kak…tolong banyaklah buat tulisan tentang kami…kami ini sudah putus harapan…sudah tidak tahu sampai kapan harus hidup ketakutan seperti ini….”

Jajang masih menonton TV. Saya menahan isak.

“Vy…, lo kenapa?”

“Nggak apa…,” saya mencoba tersenyum. Seperti ada beliung menancapi sekujur tubuh saya. Allah betapa kecilnya saya. Betapa tak berdayanya saya. Semalaman saya menangis. bantal saya basah. Sayang, saya bukan siapa-siapa….

***

Semua sastrawan yang datang dalam rangka program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diprakarsai Majalah Sastra Horison dan didukung sepenuhnya oleh Ford Foundation itu menginap di Hotel Sultan, Banda Aceh.

Saya dan jajang C. Noer di kamar 225 sering mendengar derap-derap langkah (seperti orang latihan jogging atau baris berbaris) di atap kamar kami, bahkan bila malam tiba. Lalu sekitar pukul 02.00 dini hari, pesawat helikopter menderu-deru, tak jauh dari atap hotel. Belum lagi orang tak dikenal (sampai kami pulang tak diketahui siapa) sering mengetuk pintu kamar kami kuat-kuat pada dini hari atau menjelang subuh….

Keesokan harinya, pagi-pagi kami ada acara dengan teman-teman dari Dewan Kesenian Aceh. Kebetulan Diana Roswita (pengurus FLP Aceh) dan teman-teman Forum Lingkar Pena Aceh banyak yang datang. Saya memperkenalkan Diana Roswita pada Pak Taufiq Ismail. Pak Taufiq yang selalu mengikuti perkembangan FLP sangat antusias.

“Insya Allah buku karya Diana dan Himmah Tirmikoara (keduanya gadis Aceh, pengurus FLP Aceh) akan terbit Juni ini, Pak,” kata saya pada Pak Taufiq. “Kalau tidak salah Mizan yang akan menerbitkan. FLP juga akan menerbitkan kumpulan cerpen tentang Aceh yang ditulis sendiri oleh penulis-penulis muda FLP Aceh.”

Pak Taufiq menatap saya dan Diana bergantian, tersenyum dan dengan kebapakan berkata , “Masya Allah, Helvy…banyak sekali pahala kau dengan FLP ini.” Mata beliau menyiratkan nyala harapan. Tiba-tiba saya teringat Halfino Berry—orang yang saya kira paling berjasa di FLP. Lalu saya ingat Mas Gola Gong, Ali Muakhir, Rahmadiyanti, teman-teman Bee Home Production, Mbak Ina Agustina, Asma Nadia, Intan, Imun, mas Boim, Habiburahman Saerozi dan tiga ribu teman lainnya dalam tekad yang sama. Pujian Pak Taufiq itu buat sahabat-sahabat FLP yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara. Saya tak berhak secuil pun.

Tak lama kemudian saya dijemput oleh Arif (Sekum BEM Unsyiah), Tati dan beberapa temannya. Setelah minta ijin pada Bu Ati (ketua rombongan) saya memisahkan diri dari rombongan Horison yang pergi makan siang bersama teman-teman dari Dewan Kesenian Aceh.

Apa yang saya lakukan bersama teman-teman Unsyiah? Saya meminta bantuan mereka untuk menemani saya membeli sembako, peralatan sekolah dan sebagainya bagi anak-anak korban DOM, pengungsi atau mereka yang membutuhkannya. Annida, majalah kecil yang saya pimpin, merasa peduli dan memberi saya amanah untuk menyalurkan sebagian dari dana Dompet Peduli Bangsa Majalah Annida bagi yang berhak menerimanya di Aceh. Urusan-urusan seperti ini selalu membuat saya lupa pada rasa lapar di perut saya.

Inilah pertama kali saya memisahkan diri dari rombongan. Di jalan saya masih terus berpikir…bagaimana agar saya bisa memenuhi banyak undangan dari teman-teman di Aceh, di luar agenda SBSB. Terus terang, sebenarnya secara resmi SBSB hanya akan mengunjungi dua tempat di Banda Aceh. Saat briefing hari pertama Pak taufiq dan Bu Ati mengatakan banyak sekali pihak yang tiba-tiba mengundang kami. Berharap bisa bertemu kami. Selain SMU Modal bangsa, MAN I dan Dewan Kesenian Aceh, IAIN Arraniry, acara pentas seni dan penggalangan dana untuk Aceh di Unsyiah, dengan remaja Masjid Se Banda Aceh di Baiturahman, MUI Aceh, acara di museum Ali Hasjmi, dll juga akhirnya menjadi agenda kami.

Saya pusing karena beberapa yayasan Islam dan yayasan perempuan Aceh ingin bertemu saya. Dalam hati saya merasa tidak enak. Memangnya apa kali saya dibandingkan para “raksasa” itu (Rendra, Taufiq, Emha, Hammid Jabbar) hingga acara saya lebih banyak dari mereka. Malu sekali. Saya diundang berbicara oleh Yayasan Para Melati, diundang untuk mengisi seminar tentang ureung Inong (perempuan aceh) di Unsyiah bersama beberapa tokoh perempuan Aceh (termasuk istri gubernur). Diundang oleh teman-teman FLP dan dijadwalkan untuk bertemu aktivis-aktivis LSM, juga aktivis muslimah dari sebuah partai Islam di Aceh. Beberapa orang bahkan menghubungi saya dan secara terus terang mengajak saya untuk bertemu dengan beberapa tokoh GAM.

Lambat laun baru saya sadar. Mereka tidak hanya memandang saya sebagai pengarang yang juga pernah menulis tentang Aceh. Mereka memandang saya dekat dengan keislaman, desah napas mereka. Mereka memandang saya sebagai orang Aceh. Sebagai cucu TM. Usman El Muhammady, salah satu tokoh Aceh yang diakui oleh tokoh Aceh lainnya semisal almarhum Prof. Osman Raliby sebagai guru. Kakek sendiri–kelahiran 1900– selain ahli kimia adalah ahli Islamologi pertama di Indonesia. Ayahnya cucu kandung Pahlawan Imam Bonjol. Sementara ibunya Pocut Fathimah masih keturunan bangsawan Aceh (pocut adalah julukan bagi perempuan bangsawan Aceh/keturunan Sultan ).

Kembali ke atas, setelah memisahkan diri dari rombongan, kami ke sebuah pasar di Banda Aceh. Saya lihat Banda Aceh relatif aman, meski tampak banyak polisi/tentara di mana-mana dengan mobil dan truk mereka yang unik. Ya, semuanya ditulis dengan kalimat-kalimat Allah, dengan tulisan bahasa Arab yang bagus. Kata-kata Bismillah, ukhuwwah, Allahu Akbar ada pada mobil dan truk-truk itu. Jalan-jalan menuju perumahan polisi/tentara dijaga ketat dan diberi pagar kawat berduri pada separuh badan jalan, hingga mobil kami harus berjalan perlahan dan zigzag.

Pasar dan pusat perbelanjaan lengang. Jauh lebih sunyi dari pasar mana pun yang pernah saya kunjungi, bahkan bila itu pada malam hari. Namun ada juga tempat belanja (supermarket besar, semisal “Muara”) yang lumayan ramai. Kami belanja hingga Ashar tiba.

“Kita langsung salurkan saja, ya,” kata saya pada Tati cs.

“Lho, Mbak nggak capek?” tanya mereka.

Saya mengangguk mantap. Bagaimana saya bisa lelah? Bagaimana saya bisa merasakan lapar? Saya di Aceh! Di negeri luka itu!

“Saya ingin langsung bertemu mereka.” Saya sadar betul saya ke Aceh atas nama Horison. Karena itu waktu saya tidak banyak. saya tak bisa selalu memisahkan diri dari rombongan.

Teman-teman muda dari Unsyiah pun dengan semangat siap mengantarkan.

Pertama sekali kami sampai di Panti Bantuan Islam dan disambut oleh sepasang kakek nenek yang mengelolanya. Lebih dari 60 anak korban DOM berada di panti yang bangunannya belum selesai karena tak ada dana itu. Ada yang balita, ada pula yang telah kuliah. Alhamdulillah saya pergi bersama empat orang teman dari BEM Unsyiah, kalau tidak…entah bagaimana. Soalnya saya cuma bisa menangis. Lutut saya lemas. Saya peluk mereka yang masih amat kecil satu-satu. Saya jabat, saya cium para muslimahnya dan dengan suara parau saya menyemangati adik-adik pemuda di sana. Lantas tiba-tiba rasa tak berdaya itu kembali menyergap saya. Cuma ini yang bisa saya lakukan? Yang bisa saya berikan? Cuma ini yang bisa Annida bantu? Sungguh kecil. Sungguh sangat tak berarti.

“Kakak, mengapa kakak menangis? Jangan menangis. Lihat, mata kakak merah. Bengkak….”

Seorang gadis kecil berjilbab tersenyum sambil memegang ujung baju panjang saya.

“Kami tidak apa-apa…,” bola matanya membulat dan ia mencoba tersenyum. Tapi itu tak lama. Ketika saya peluk, ia juga terisak.

“Mbak, mbak nggak apa-apa nih? Kita lanjut terus?” tanya Sofyan dan Arif pada saya hati-hati, saat kami sudah berada kembali di mobil.

“Saya… baik-baik saja. Kita ke panti berikutnya…,” kata saya dengan suara yang paling getar sambil membalas lambaian tangan anak-anak yang tak juga berhenti. Kata-kata ibu penjaga panti masih terngiang di telinga saya….

“Banyak di antara mereka yang melihat langsung ketika orangtuanya dibunuh atau diculik….”

Hari sudah senja. Sekilas saya berpikir tentang acara rombongan dengan para mahasiswa IAIN Ar Raniry pada jam tersebut. Tapi saya lega. Di tempat itu para ‘raksasa’ pasti tengah berdiskusi. Di sana ada Pak Taufiq, Mas Willy, Pak Hammid Jabbar dan Mas Emha. Tak ada saya pun tak mengapa. Makanya dengan yakin saya terus melanjutkan perjalanan ke panti berikutnya. Kali ini menuju panti asuhan anak korban DOM milik Pesantren Hidayatullah, Banda Aceh.

Panti asuhan Hidayatullah terletak di tepi kota Banda Aceh. Jalan ke sana berliku juga terkesan bukan jalan yang banyak dilalui orang. Di sana kami disambut beberapa ustad muda dan anak- anak panti yang tampak girang melihat kami membawa sesuatu buat mereka. Sekardus biskuit tango yang kami belikan, misalnya, dipeluk erat, dibelai-belai dengan sayang oleh beberapa tangan kecil, seolah itu adalah barang yang amat berharga bagi mereka.

Saya sebenarnya sudah berusaha menahan tangis, apalagi di depan ustad-ustad itu. Tapi gagal total. Sementara anak-anak dengan baju lusuh itu mengintip beberapa kardus yang kami bawa. Mereka pegang karung beras bermerk, juga kardus berisi mie instant itu. Mata mereka berbinar-binar melihat buku-buku tulis baru, penggaris, serutan atau penghapus karet wangi yang kami beli di pasar, menciumi beberapa peralatan mandi yang menyembul dari balik kardus yang setengah terbuka namun masih dengan tetap berusaha menahan diri di hadapan kami. Lalu saling pandang dan saling tebak isi-isi kardus lain yang kami bawa sambil terus tersenyum.

Sebenarnya jumlah anak di panti tersebut banyak, namun sekarang berkurang. “Banyak yang dijemput oleh familinya, lalu dijadikan pengemis di kota,” kata salah seorang ustad yang saya lupa namanya. “Itu sering terjadi,” tambahnya. “Oh ya, selain mendapat pendidikan di sini, anak-anak itu juga harus bekerja merawat panti bersama-sama.”

Seperti saat sebelumnya, saya tidak bisa bicara. Hanya mendengarkan.

“Bagaimana mbak?” tanya Arif, sekum BEM Unsyiah yang asli Aceh namun lebih mirip orang Sunda dan Jawa itu. “Pulang atau lanjut?”

“Terus, Rif. Kita ke panti berikutnya.”

“Di depan Panti Zinatul hayati ada masjid. Kita salat Maghrib di sana saja, Mbak,” kata Tati.

Tiba-tiba perasaan saya tak enak. Bagaimana kalau teman-teman sastrawan khawatir karena saya tak bersama mereka. Apalagi hampir maghrib. Saya telpon Jajang.

“Gila, Vy. Lo di mana?” tanyanya bingung.

“Aku baik-baik aja, masih di panti. Sampaikan sama Bu Ati ya!” kata saya singkat.

“Jangan sampai malam, Vy. Bahaya. Gila aja lo!” serunya lagi sebelum saya menutup telpon.

Dalam perjalanan menuju panti itu, saya dan teman-teman Unsyiah sempat singgah di rumah Cut Nyak Din sebentar, sesaat sebelum gelap. Rumah aslinya sebenarnya telah dibakar Belanda. Jadi yang kami lihat hanya replika, kecuali pondasi rumah (panggung) dan sumur. Kami masuk ke tiap ruangan yang dibuat sebagaimana aslinya, termasuk kamar Cut Nyak dan ruang rapat serta ruangan tempat senjata-senjata yang pernah digunakan Cut Nyak dipajang. Saya juga melihat foto asli Cut Nyak saat ia ditangkap Belanda dan telah buta. Seluruh bulu kuduk saya berdiri dan saya merasa ada sesuatu yang menyelusup pada diri saya. Saya tidak tahu apa. Kekaguman, semangat yang menggebu, empati pada perjuangan dan penderitaan rakyat Aceh atau cita-cita untuk bisa banyak memberi dan berkorban seperti tokoh dengan kakakter luar biasa itu. Lagi-lagi airmata saya tumpah.

Kami melanjutkan perjalanan dan tiba di panti berikutnya: Zinatul Hayati. Saya miris. Tak ada orangtua di rumah sederhana itu. Semua anak-anak. Yang paling tua di antara mereka baru lulus SMU dan bertindak sebagai ibu di sana. Ia memasak, mengatur rumah dan mengurusi begitu banyak “adik.”

“Anak yang itu sangat trauma karena melihat orangtuanya dibantai di depannya saat ia masih balita, Mbak,” kata Tati menunjuk seorang anak berusia sekita 7 tahun.

“Pendengarannya juga terganggu karena pernah mengalami penyiksaan. Kita harus berbicara dengan suara keras padanya, tetapi kadang mendengar suara keras itu ia sering ketakutan,” tambah Sofyan.

Saya pandang anak itu. Kurus. Banyak koreng. Bajunya kekecilan. Celananya kesempitan. Tapi saya menemukan binar yang sama seperti anak-anak panti lainnya. Mereka bahagia dikunjungi, diperhatikan.

Saya ingin berlama-lama di situ, tetapi selain sudah malam, saya takut teman-teman sastrawan khawatir. Setelah maghriban di sana, saya pun pulang ke hotel.

Seluruh anggota rombongan tengah berada di lobi. mereka terlihat sudah mandi dan rapi. Tampaknya semua siap pergi makan malam.

“Helvy…kemana saja?” tanya Mas Willy dan Mbak Ken.

“Gimana perjalanan lo? Duh, gue tuh pengin banget ikut,” sambung Jajang. Pak Hammid, kang Herry Dim, Novia, semua bertanya.

“Tadi di IAIN seru,” kata Jajang. “Kita diserang, dimaki-maki. Dibilang ada udang di balik batu datang ke sini. Kita dibilang basa-basilah, cuma menghiburlah,” tambahnya. “Untung ada Emha. Dasar orator. Dia mendengarkan, berbicara proporsional, menjawab dan akhirnya merangkul semua. Bagus banget dia tadi!” puji Jajang.

“Ayo…ayo kita makan!” suara Bu Ati. “Eh, Helvy…kamu sudah balik? Ayo kita makan.”

Jadilah. Tanpa mandi atau ganti baju, saya ikut mereka. Kami makan malam di sebuah tempat makan terbuka. Ada menu Aceh, juga sate kambing dan sapi. Baru saja saya akan meminum air putih, seorang anak yang kumal dan tak beralas kaki datang menyodorkan sebuah amplop kosong yang lusuh. Tanpa kata meninggalkan amplop tersebut di meja kami. Saya meraih amplop lusuh itu dan mengisi dengan uang sedikit. Tak lama anak tersebut kembali dan mengambil amplop tersebut.

Bang Rahmat Sandjaya, sastrawan yang juga aktivis pemuda PPP Banda Aceh berkata,”Jangan diladeni, Helvy. Mereka terorganisir. Lihatlah, tiap lima menit akan datang lagi anak-anak lainnya, yang juga seperti yang tadi itu.”

Tapi itu kan karena mereka lapar. Karena mereka menderita dan luka, kata saya dalam hati.

Baru lima menit anak itu berlalu, muncul anak lainnya. Lalu anak yang lain dan yang lain lagi. Teman-teman masih membicarakan Gus Dur. Ternganga-nganga mendengar cerita Mas Emha tentang betapa lihai dan trikinya presiden kita itu. Jajang memegang kepalanya berulang kali. “Gila kalau bukan lo yang cerita, gue nggak percaya,” katanya pada Emha. “Gue kira dia cuma “gila”, nggak tahunya lebih dari itu. Gue pusiiiing!” ujarnya, diikuti senyum teman-teman yang lain.

Saya masih di ujung meja. Mendengar semua dan menatap makanan yang terhidang di atas meja. Airmata saya menetes, tes. Nyemplung tepat di dalam gelas air jeruk yang entah mengapa saya pegang begitu erat di dada saya.

“Nggak bisa makan, Vy?” tanya Kang Herry.

Saya bahkan tak bisa menjawab. Ada yang tersekat di kerongkongan saya. Tak lama kemudian datang anak lusuh lain dengan amplop yang selusuh dirinya pula. Menyapa dengan sapa serupa dan menatap dengan luka yang itu juga. Di batin saya tiba-tiba menggema sebuah lagu pilu….

Oh ayah lon bunda lon
jak intat lon nibak sikula
jak intat lon bak teumpat beut
supaya beujeut rukon agama….

wahai ayahku, wahai bundaku
antarkanlah daku ke sekolah
antarkan ananda ke pengajian
supaya tahu rukun agama….

Sesampai di hotel, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat. Banda Aceh begitu sepi. Jangan harap bisa bertemu banyak orang di atas pukul sembilan malam. “Kalau di tempat lain, apalagi Aceh Timur, Aceh Utara dan lainnya, desa dan kota sudah seperti mati saat maghrib,” kata beberapa penyair Aceh yang menemani kami kembali ke hotel.

“Mbak Helvy dulu di FSUI ya?” tiba-tiba Novia yang berjalan di samping saya bertanya.

Saya mengangguk. “Via juga kan?”

Kini dia manggut. Beberapa hari ini kedatangan Novia menjadi hiburan sendiri bagi masyarakat Aceh. Ia beberapa kali mengajak bernyanyi namun syairnya diubah dengan shalawat nabi. Saya salut orang seperti dia berani ke Aceh. Dalam kondisi hamil empat bulan pula. “Setiap habis melahirkan saya merasa ada yang hilang. Terus…langsung ingin hamil lagi…,” katanya beberapa waktu lalu sambil tertawa.

Novia. Nuansa tersendiri di tengah pedih Aceh. Sayang, besok pagi (23/4) ia harus pulang ke Yogya. Di kamar, saat ingin berbaring, telpon kembali berdering-dering. Telpon dengan nada yang sama seperti hari sebelumnya. Luka. Tangis. Harapan. Dan saya tak bisa berbuat apa-apa.

“Halo, Cut Da Helvy? Cut Da…, dulu waktu di Aceh Timur…kami sering disuruh mengungsi pukul dua dinihari…(lirih). Ya, Cut Da…kalau tidak mau kami akan dibunuh…(menangis).”

“Oleh siapa, Dik?”

“(berbisik) Orang-orang bersenjata…”

“Siapa mereka? Dari kalangan mana?”

“(berbisik lagi) Orang-orang bersenjata….”

Klik. Terputus.

“Kriiiing….”

“Kak Helvy…, teman-teman kami banyak yang diculik. Mereka lalu hilang…begitu saja dan kemudian ditemukan jadi mayat…. Setiap bulan kami harus menerima kenyataan seperti itu. Kami serba salah, Kak…. Kalau memihak aparat, kami dimusuhi GAM. Memihak GAM kami…dimusuhi…aparat…, lalu kami harus bagaimana?”

“Ini siapa?”

“Saya…saya…saya dari Unsyiah…kak…saya…”

“Apa benar rakyat Aceh ingin merdeka?” tanya saya hati-hati. Sepi.

“Kami… netral saja, Kak. Kami cuma ingin hidup wajar. Merdeka juga belum tentu ada kedamaian…(lirih).”

Klik. Terputus lagi.

Tiba-tiba handphone saya berdering. Dari suami saya yang saat itu telah lebih dari seminggu berada di Yogyakarta. Saya tahu ia pasti sangat memikirkan saya meski ia sudah mengizinkan saya pergi sejak tiga bulan lalu saat saya diajak turut dalam rombongan SBSB ini.

“Bagaimana kabar Bunda? Aku tak bisa tidur memikirkan Bunda,” tawanya terdengar. Agak getir. Ia mengaku tergeragap saat menyadari tiba-tiba saja sudah berangkat dan sesaat menyesal karena telah mengizinkan saya ke Aceh.

“Saya menemukan banyak hikmah di sini. Rasanya saya ingin segera menulisnya, Mas!” ucap saya dengan nada yang paling riang.

Lalu suara orang tercinta itu terdengar sangat lega.

Namun …masih ada dering telpon. Jajang yang sibuk menerima telpon dari anak dan teman via HP pribadinya dan saya yang dengan berdebar setia mengangkat telpon di kamar hotel.

Tepat tengah malam.

Jajang masih menonton tivi.

Beberapa buku sastra karya teman-teman sastrawan Aceh berserak di tempat tidur saya. Pengarangnya sendiri yang memberikannya pada saya. “Catatan Tragedi Hitam” karya M. Nurgani Asyik yang diterbitkan SIRA dan Peniyoh, “Keranda’Keranda” (antologi puisi bersama) yang diterbitkan Dewan Kesenian Aceh bekerja sama dengan ELSAM dan NGO HAM Aceh, lalu kumpulan cerpen HAM: “Remuk” yang diterbitkan tahun 2000 lalu oleh Dewan Kesenian Aceh.

Siapa saja yang datang
kami sambut dengan tarian
dan syair perjamuan
pertanda kemuliaan
Siapa saja yang datang
kami kalungkan bunga
salam sepuluh jari
menjadi sebelas dengan kepala
berbilah-bilah rencong
dengan sarung dan tangkai berkilap
tak lupa kami selipkan
pertanda martabat
dan keagungan
betapa pedih hati kami
dari Jakarta
kalian hujamkan mata rencong itu
tepat di jantung kami

(Cuplikan puisi Rencong, karya Fikar W. Eda, terdapat pada sampul belakang buku kumpulan cerpen “Remuk”).

Aceh masuk dalam semua mimpi malam. Membelit-belit saya.

***

Pagi, seperti sebelumnya, saya dan Bu Ati Ismail keluar mencari sarapan pagi buat teman-teman, soalnya di hotel harus bayar lagi untuk bisa sarapan. Kami membeli gorengan, nasi gurih atau lontong sayur.

Jadwal hari itu dimulai dari SMU Modal bangsa, sebuah SMU unggulan yang berada di Aceh Besar. Sama dengan di MAN I mereka pun menyambut kami dengan tarian dan ratusan senyum. Juga persembahan sirih. Kami saling pandang lagi. Soalnya harus makan (biar sedikit) sirih yang mereka berikan untuk memuliakan kami.

Sambutan siswa-siswi SMU Modal Bangsa luar biasa. Acara belum dimulai, tetapi mereka sudah langsung menyerbu kami. Saya ternganga melihat buku-buku saya dalam genggaman adik-adik yang berdesakan meminta tanda tangan saya serta sastrawan lainnya itu. Juga tak henti tersenyum melihat antusias mereka untuk foto bersama.

“Mbak, ini surat dari saya buat mbak,” seorang gadis berseragam putih abu-abu dengan jilbab putih panjang menghampiri saya dan menyerahkan sepucuk surat. Lalu muncul yang lain, juga menyerahkan surat. Saya kaget, semakin lama semakin banyak. Apa tidak salah? lalu muncul belasan orang lagi. Siswa dan siswi. “Mbak ini untuk mbak. Kami suka baca buku-buku mbak!”

“Iya, kak! Terus menulis ya, Kak!”

“Ingat kami terus ya!”

Lalu mulai dari tempat pinsil, tempat tisu, bros, sapu tangan, foto, pulpen, sampai pin sekolah SMU Modal Bangsa mereka berikan pada saya. Ya saya bisa apa selain memeluk mereka dengan haru (ini tentunya nggak termasuk yang cowok ya).

Saat diskusi, dengan cerdas, mereka bertanya satu persatu perihal sastra. Juga kiat-kiat menulis. Lalu lagi-lagi berharap, kami bisa berbuat sesuatu untuk kasus Aceh. Kami terenyuh.

Sebelum pulang, Novia didaulat Emha menyanyikan lagu “Dengan Puisi Aku” yang diambil dari puisi berjudul sama karya Taufiq Ismail. Suasana begitu hidup dan semarak, sampai akhirnya kami semua bernyanyi bersama.

Pertanyaan untuk saya banyak juga. Saya pun sempat membaca penggalan cerpen Jaring-Jaring Merah yang ber-setting Aceh itu. Sambutan mereka heboh. Eh, Mas Willy (Rendra), Pak Taufiq dan sastrawan lain langsung mengucapkan selamat. “Wah penampilanmu bagus!” seru Mas Willy yang duduk tepat di sebelah saya.

Kami semua dengan semangat memotivasi anak-anak itu untuk gemar membaca dan menulis. “Para siswa di negara lain membaca 10 sampai 30 buku dalam tiga tahun. Di Rusia misalnya, mereka membaca buku Tolstoy yang tebalnya 700 halaman ditambah 19 buku lain di masa SMU,” kata Pak Taufiq mengutip hasil surveynya. “Di Indonesia, nol buku sastra. Para siswa hanya membaca ringkasan, bukan buku sastranya secara utuh. Benar benar menyedihkan. Kita betul-betul ketinggalan.”

Pada kesempatan tersebut, seperti di sekolah dan kampus yang kami datangi sebelumnya di Aceh, Pak Taufiq menyerahkan lima eksemplar buku “Dari Fansuri ke Handayani” yang tebalnya hampir 700 halaman untuk sekolah tersebut. “Buku ini merangkum sejarah sastra kita selama empat abad,” ujar Pak Taufiq. “Dari masa Hamzah Fansuri di tahun 1600-1700-an hingga masanya Eliza Vitri Handayani, sastrawan muda kelahiran tahun 1983 yang menggebrak paling akhir. Buku ini memuat 147 sastrawan Indonesia yang karya-karyanya melengkung bagai pelangi yang menghiasi cakrawala sastra kita,” tambahnya tentang buku terbitan Horison dan Ford Foundation yang tidak diperjualbelikan tersebut.

“Apakah anda sanggup membaca buku yang tebalnya hampir 700 halaman ini?” tanya Pak Taufiq. Serempak anak-anak itu menjawab sanggup dengan gemuruh.

Selesai acara, susah payah kami berhasil juga melepaskan diri dari serbuan siswa-siswi SMU Modal Bangsa. Itu setelah sebelumnya masing-masing kami menandatangani ratusan buku, kertas dan makalah (yang terakhir ini kami sebar dalam rangka acara SBSB lantas disodorkan kembali oleh mereka untuk kami tandatangani). Sambil mendengarkan musikalisasi puisi, sembari keringatan, tangan kami terus bergerak seperti mesin pabrik. Dimulai dari Pak Taufiq, kertas demi kertas bergerak ke arah saya, lalu Mas Willy dan Emha…. Pegal juga tapi tak mengapa.

Kami makan siang di SMU tersebut dan terburu-buru kembali di hotel. Bukan apa-apa, siang itu kami sudah ditunggu di Universitas Syiah Kuala untuk menghadiri acara Pentas Seni dan Amal yang diadakan BEM Unsyiah bekerjasama dengan beberapa yayasan, juga dengan Forum Lingkar Pena Aceh.

Sampai di aula FE Unsyiah, sudah banyak sekali yang datang, termasuk para pejabat dan ibu-ibu darma wanita Aceh (semacam itulah). Yang saya suka, mereka duduk rapi betul. Sejak sampai di Aceh saya perhatikan dalam setiap acara, tempat duduk lelaki dan perempuan selalu dipisah.

Saya duduk di meja khusus yang disiapkan panitia di antaranya bersama Bu Ati Ismail, Jajang C. Noer, Ken Zuraida, Ibu Wagub Aceh dan Ibu Marlinda, istri Gubernur Aceh: Abdullah Puteh yang sangat cantik dan bekas penyiar televisi Yogyakarta itu.

“Tuh kan, Aceh aman-aman saja, “katanya pada kami. “Tidak seperti yang digembargemborkan orang….”

Entah mengapa saya kok tidak senang mendengar ia berkata begitu dan tak hendak menanggapi. Begitu juga teman-teman yang lain, hanya cengar cengir.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat Al Quran, sambutan-sambutan, lalu beberapa hiburan seperti nasyid dan tari-tarian Aceh (termasuk tari Rapak i Geleng favorit saya yang dibawakan adik-adik dari MAN I Banda Aceh). Tapi di antara semua, Mas Willy yang tampaknya paling menikmati tarian tersebut. “Dia senang betul menontonnya,” ujar Mbak Ken Zuraida pada saya saat Mas Willy mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk kemudian bertepuk tangan lama sekali.

Sayangnya tak lama kemudian listrik padam. Panitia bingung karena tak bisa mengendalikan massa yang berjumlah ribuan. Akhirnya Mas Emha yang baru saja diserbu banyak wartawan, mengambil alih acara. Langsung saja “Kyai Kanjeng” ini meminta ribuan orang yang hadir untuk maju ke depan dan duduk lesehan bersama. Sementara kami didaulat untuk tampil semua di panggung.

Mas Emha menyatakan sekali lagi kekagumannya pada tarian Aceh yang dibawakan oleh para pemuda sebelumnya. “Saya yakin, kalau rakyat Aceh kompak seperti yang ditunjukkan oleh tarian rapak i geleng dan sebagainya, masalah Aceh akan lebih cepat selesai. Apalagi memang hanya masyarakat Aceh yang bisa menarikan tarian yang membutuhkan kekompakan dan konsentrasi yang luar biasa tadi. Kalau orang Jawa seperti saya yang menarikan tarian rapak i geleng tadi mungkin kepalanya sudah pecah semua karena saling bertabrakan….”

Semua bertepuk tangan.

“Karenanya memang bukan orang Jawa atau orang Jakarta yang menentukan nasib Aceh, tapi harus rakyat Aceh sendiri. Kami sebagai saudaramu yang datang akan selalu mendukungmu. Kalau saudara-saudara kami di Aceh ingin merdeka, kami akan mendukungmu dan engkau tetaplah saudara-saudara kami. Kalau kau ingin tetap berada dalam negara kesatuan kami pun akan memelukmu dan mencoba untuk membantu menghapus luka-lukamu…. ”

Semua bersorak.

Lalu setelah berdiskusi dengan panitia, akhirnya acara kami pun dimulai. Pak hammid Jabbar membaca puisinya yang terkenal :Proklamasi 2, lalu Jajang C. Noer membacaikan puisi karya Mustofa Bisri. Awalnya Jajang sempat disoraki, tetapi ia bisa menenangkan mereka. “Saya belum selesai membaca. Tolong didengarkan. Kalau anda mau protes, nanti sesudah saya selesai.”

Setelah itu Pak Hammid Jabbar bertanya. “Siapa lagi yang kalian minta tampil lebih dulu?”

Saya yang duduk di dekat Mas Willy dan Pak Taufiq tak menyangka kalau gelombang jilbabber yang ada langsung berteriak kencang: “Helvy Tiana Rosaaaaaa!”

Jadilah saya membacakan puisi saya “Salam Negriku” (puisi ini ada di dalam antologi “Sajadah Kata” yang akan diluncurkan Penerbit Asy Syaamil akhir Mei 2001). Alhamdulillah, meski listrik mati, saya masih punya bekal vokal teater yang saya asah sejak kelas 3 SD. Suasana begitu hening saat saya membacakan puisi tersebut dengan mata berkaca. Dan betapa terharunya saya, saat tiap bait disambut oleh seruan “Allahu Akbar!” dan tepukan yang panjang dari mereka. Selesai membacakan, teman-teman sastrawan memuji. Bu Ati menghapus airmatanya. “Lihat tuh Helvy, saya sampai nangis dengar kamu baca puisi tadi!”

Walah, begitu saya selesai baca puisi, listrik menyala kembali.

Setelah break Ashar, acara diteruskan. Sayang, ibu gubernur dan beberapa istri pejabat pemda sudah pulang karena mengaku ada acara lain.

Sebelum Mas Willy, Pak Taufiq dan Mas Emha baca puisi, panitia mengadakan lelang barang-barang. Ada lukisan-lukisan bagus yang dibuat teman-teman BEM Unsyiah, ada parcel unik dan mungil yang berisi cendera mata asli Aceh, sampai buku-buku karya kami. Bu Ati sendiri menyumbangkan buku Wanita Utama Nusantara yang menceritakan tentang para wanita Aceh yang punya andil besar dalam kehidupan dan perjuangan kemerdekaan rakyat Aceh.

Mas Emha dan Mas Willy ‘patungan’ membeli lukisan berjudul Syahadah yang menggambarkan sosok janin di dalam perut yang ruhnya bersaksi terhadap keberadaan Allah, seharga Rp. 250.000. Pak Taufiq turut membeli cenderamata seharga Rp. 250.000. Lalu Pak Wagub membeli lukisan, paket cenderamata seharga 1,5 juta (sepertinya Mas Emha yang duduk tepat di samping beliau berhasil “menggosok”). 10 buku saya yang dibuka dengan harga 115.000 pun dibeli Pak Wagub seharga Rp. 500.000. jadi beliau menyumbang 2 juta untuk acara lelang tersebut.

Saya dan Bu Ati dengan risih melirik seorang ibu di sebelah kami (sepertinya istri pejabat juga) yang mengenakan begitu banyak emas. Gelang-gelang yang bermerincingan, kalung dengan bandul emas besar, cincin yang begitu banyak dan berkilau. “Nggak peka amat sih bu, tuh orang!” kata saya pada Bu Ati. “Kan dia hidup di sini, merasakan cuaca penderitaan di sini…kok bisa begitu,” saya bersungut-sungut sendiri.

Melalui Tati (BEM Unsyiah), saya membeli buku tentang perempuan Aceh yang dibawa Bu Ati seharga Rp.700.000.

“Kamu nggak usah beli nanti saya kasih dua,” kata Bu Ati. Tapi kemudian beliau tahu bahwa saya membeli buku itu ya bukan semata untuk memilikinya. Ya nyumbanglah.

Sayang, acara lelang tak begitu sukses. Habis yang datang kebanyakan mahasiswa. Pejabat dan pengusahanya nyaris tak ada.

Mas Willy menyelesaikan pembacaan beberapa puisinya disambut dengan gemuruh tepukan tangan. Pak Taufiq Ismail membaca puisinya sambil menangis, hingga banyak di antara yang hadir menitikkan airmata.

Di penghujung acara, Mas Emha didaulat untuk membacakan doa. Kami semua diminta untuk ke depan. Hadir juga beberapa anak korban DOM.

“Kalau ada yang ingin anda minta kepada Allah, apa yang akan anda minta untuk Aceh?” tanya Mas Emha. Seketika semua memberikan masukan.

“Kami ingin merdeka dari segala bentuk penindasan!”

“Kami ingin keadilan dan kedamaian di Aceh!”

“kami ingin Aceh bebas dari kemaksiatan!”

“Kami ingin menerapkan syariat Islam!”

“Kami ingin….”

Mas Emha akhirnya memimpin doa dan memasukkan keinginan itu dalam doa yang ia lantunkan. Kami semua menyerukan Amin dan menangis bersama. Seluruh badan saya bergetar merasakan suasana yang haru biru. Saya peluk dua anak korban DOM di dekat saya yang juga terisak.

Selesai doa, massa naik ke atas pentas menghambur ke arah kami. Saya tak sempat memperhatikan teman-teman yang lain. Lautan jilbab menghadang saya. Berdesak-desakan mereka memeluk dan mencium saya. Banyak juga yang meminta tanda tangan dan foto bersama. Panitia berusaha menghalau tapi saya bilang: “Biarkan! Tolong, biarkan, saya juga ingin memeluk dan mencium mereka….”

Airmata saya menganak sungai. Rasanya saya sudah hampir pingsan dalam kerumunan yang luar biasa itu. Tapi sempoyongan, saya terus menjabat, memeluk, mencium mereka satu-satu…. ***

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s