**Mengapa Manusia Bersikap Bodoh?


Buya hamka [Alm] pernah berkata, ‘Mengapa manusia bersikap bodoh? Tidakkah engkau tatap langit yang biru dengan awan yang berarak seputih kapas? Atau engkau turuni lembah sehingga akan kau dapatkan air yang bening. Atau engkau bangun di malam hari, kau saksikan bintang gemintang bertaburan di langit biru dan rembulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya. Atau engkau dengarkan suara jangkrik dan katak saling bersahutan. Sekiranya seseorang amat gemar memandang keindahan, amat senang mendengar keindahan, niscaya hatinya akan terbebas dari perbuatan keji. Karena sesungguhnya keji itu buruk, sedangkan yang buruk itu tidak akan pernah bersatu dengan keindahan’.

Berbahagialah orang yang senang melihat kebaikan orang lain. Tatkala mendapati seseorang tidak baik kelakuannya, ia segera mahfum bahwa manusia itu bukanlah malaikat. Di balik segala kekurangannya yang dimilikinya pasti ada kebaikannya. Perhatikanlah kebaikannya itu sehingga akan tumbuh rasa kasih sayang di hati. Mendengar seseorang selalu berbicara buruk dan menyakitkan, segera mahfum. Siapa tahu sekarang ia berbicara buruk, namun besok lusa berubah berucap baik. Karenanya, dengan mendengarkan kata-kata yang baik-baiknya, niscaya akan tumbuh rasa kasih sayang di hati.

Jalaluddin Rumi pernah berkata, ‘Orang yang begitu senang dan nikmat melihat dan menyebut-nyebut kebaikan orang lain bagaikan hidup di sebuah taman yang indah. Kesini anggrek, kesana melati. Pokoknya kemana saja mata memandang yang nampak adalah bebungaan yang indah mekar dan harum mewangi. Dimana-mana yang terlihat hanya keindahan. Sebaliknya, orang yang gemar membuka aib dan kejelekan orang lain, pikirannya hanya diselimuti dengan aneka keburukan sementara hatinya hanya dikepung dengan prasangka-prasangka buruk. Karenanya, kemanapun matanya melihat, yang tampak adalah ular, kalajengking, duri dan sebagainya. Dimana saja ia berada senantiasa tidak akan pernah dapat ternikmati indahnya hidup ini.

Sungguh berbahagialah orang yang pandai memelihara pandangannya karena ia akan dapat merasakan nikmatnya kebeningan hati. Allah Azza wa Jalla adalah Zat Maha Pembolak-balik hati hamba-Nya. Sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk menolong siapapun yang merindukan hati yang bersih dan bening sekiranya ia berikhtiar sungguh-sungguh. Wallahu’alam.

Baiti Jannati

[25.74] Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati [kami], dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

[25.75] Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi [dalam surga] karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,

[25.76] mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

Ayat di atas adalah do’anya orang-orang yang mendapat gelar ‘Ibadur Rahman’ [hamba-hamba Sang Penyayang], suatu gelar yang tertinggi yang apabila bisa kita raih maka Sang Maha Rahman akan memberikan rahmatnya kepada kita untuk bisa masuk surga.

Di sini tergambar dengan jelas betapa tinggi keinginan para ‘Ibadur Rahman untuk bisa mendapatkan keluarga yang sakinah, keluarga yang bisa menjadi penyenang hati [penyejuk mata] buat para anggota keluarga tersebut. Kita fahami bahwa keluarga itu sebagai suatu basis kehidupan seseorang. Di mana pun dan apa pun peran yang dilakukan seseorang, pada akhirnya dia akan kembali kepada keluarganya. Nah kalau keluarganya berantakan, bisa dibayangkan bagaimana bisa dia memerankan perannya dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi kalau kita menyadari bahwa mayoritas waktu kita habis dalam berkeluarga. Sejak anak sampai kita sendiri menikah, dan juga sejak kita menikah, sebagian besar waktu kita dipakai untuk bergaul dengan keluarga. Jelas bisa difahami betapa pentingnya peran keluarga dalam mendukung ‘keberhasilan’ hidup kita.

Oleh karena itu, Rasulullah pernah bersabda dalam suatu hadits yang artinya kurang lebih demikian:
‘Seseorang telah mendapatkan kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat [ingat do’a kita: Rabbanaa aatina fid dunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah], bila dia bisa mendapatkan 4 perkara:
– qalb yang selalu bersyukur
– lisan yang selalu berdzikir
– jasad yang bisa bersabar
– istri shalihah yang bisa menjaga diri dan amanat suaminya’.

Secara eksplist Rasulullah saw menyebutkan, bahwa salah satu faktor kebahagiaan di dunia adalah istri shalihah. Tanpa keluarga shalihah, mustahil seseorang akan sukses secara sempurna.

Di Amerika ketika kampanye pemilihan presiden yang lampau, ketika diramalkan akan kalah, Presiden Bush waktu itu mengangkat ‘family values’ sebagai senjata terakhir dia dalam kampanye tersebut. Kemudian, seorang rekan juga membaca sebuah buku tentang Manajemen untuk mencapai keberhasilan bisnis yang ditulis seorang manajer di Amerika, dan disebutkan di sana bahwa salah satu sukses keberhasilan adalah ‘keluarga yang tentram yang bisa mendukung kita’. Ini sebagai bandingan saja, bahwa orang-orang Barat ada yang mulai atau masih menyadari betapa pentingnya nilai-nilai keluarga ini.

Seorang ‘Ibadur Rahman’ dijanjikan Allah dengan surga, tidak hanya surga di akhirat nanti tapi juga surga di dunia yang terekspresikan dalam ungkapan ‘Baitii Jannatii’. Inilah nikmat Allah kepada para ‘ibadur Rahman’ tersebut, mereka diperkenankan mencicipi kenikmatan surga kelak dengan keluarga yang bahagia.

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s