**Tak Boleh Sombong


Konon [kalau tidak salah] kata Imam Al Ghazali, orang yang riya’ akan mempermalukan dirinya sendiri.

1. Sajadah

Setiap suaminya DL [dinas luar] Bu Sumi -sebutlah begitu- merasa gelisah dan tidak enak. Meskipun setiap pulang suaminya selalu membawa kisah-kisah yang menyenangkan, tetapi ia sering merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati. Ceritanya curiga gitu.

Suatu ketika Bu Sumi mendapat ide untuk membuktikan apakah suaminya berkata benar atau sekedar bermanis kata. Singkat cerita, ketika suaminya berangkat ke salah satu kota di Indonesia timur, Bu Sumi menyertakan sebuah sajadah yang dijahit sedikit ujung-ujungnya. Tak lupa ia berpesan agar suaminya selalu menggunakan sajadah tersebut setiap kali shalat.

Seminggu kemudian, suaminya pulang dengan kisah-kisah menarik. Tak lupa kisah ‘gombal’ tentang sajadah titipan isterinya. Setiap kali aku kangen pulang, aku menggunakan sajadah itu untuk shalat. Terobati rasanya kerinduan setiap kali membenamkan muka; bersujud di sajadah itu….

Hati Bu Sumi berbinar-binar mendengar cerita suaminya. Tetapi keceriaan itu hanya sementara. Tak lama kemudian Bu Sumi harus meratapi nasibnya memiliki suami pendusta, karena di kopor suaminya sajadah tersebut masih terlipat rapi; lengkap dengan jahitan di sudut-sudutnya. Nah lo….

2. Buku Tebal

Seorang teman, sebut namanya Arif, terkenal sangat suka membaca. Suatu hari Budi bertemu dengan Arif, lalu Budi menawarkan sebuah buku tebal dengan tak lupa memuji-muji isinya.

Dengan senang hati Arif meminjam buku tersebut. Ketika bertemu Cahyo, Cahyo bertanya: sedang baca buku apa?

Arif menjawab: buku bagus nih, pinjam dari Budi.
Cahyo: Buku bagus, sayang yang punya belum membaca…

Arif: Jangan buruk sangka. Kelihatannya ia sudah membaca kok…
Cahyo: Belum. Lihat saja tuh… lem di pinggir kertasnya belum lepas [ada beberapa bekas lem yang membuat banyak halaman buku tersebut saling menempel].

Arif: Ah, mungkin menempel lagi…
Cahyo: Ha-ha-ha… aku tahu Budi memang tidak suka membaca kok…. dia cuma pingin dikira sama seperti sampiyan….

Pesannya: banyak orang suka mengada-ada, baik bicara atau tingkah, semata agar orang lain mengira dia sudah ‘oke punya’. Oke punya ini bisa diganti dengan istilah ‘alim’, ‘muharrik’, ‘ustadz’, dsb.

Nabi saw melarang kita bicara dengan berlagak [mis: difasih-fasihkan sehingga tidak wajar].

Yang paling baik: berbicara wajar, menyembunyikan amal serapi mungkin [supaya hanya Allah yang tahu], dan jangan lupa saling bernasihat.

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s