**2,34 Juta Rumah Tangga Kategori Miskin Baru Nikmati Listrik Di India


PROGRAM KELISTRIKAN
Demi Delapan Jam Terang
Sudah lima bulan terakhir ini Ragesh (34) dan keluarganya memiliki kebiasaan baru. Menjelang pukul enam sore, warga Desa Dawrar, Distrik Jewar, sekitar 100 kilometer dari New Delhi, India, ini sudah bersiap di depan pesawat televisi. Meskipun hanya membeli televisi bekas, ia dan keluarganya menikmati hadirnya hiburan baru di rumah mereka.
Ragesh termasuk di antara 2,34 juta rumah tangga kategori miskin yang baru saja menikmati terang melalui program Rajiv Gandhi Grameen Vidyutikaran Yojana atau program listrik untuk masyarakat tidak mampu dan daerah pedesaan. Program Skema Rajiv Gandhi dicanangkan Pemerintah India tahun 2005 setelah desakan sejumlah kalangan yang menilai liberalisasi kelistrikan di negara itu hanya menguntungkan konsumen komersial dan masyarakat mampu di perkotaan. Program tersebut menargetkan, pada 2012 sebanyak 115.000 desa yang belum berlistrik dan 2,34 juta rumah tangga miskin bisa menikmati terang.
Namun, karena keterbatasan daya pembangkit, listrik untuk rumah tangga di daerah pedesaan hanya menyala delapan jam sehari, dimulai pukul enam sore. Pada siang hari, pasokan listrik diprioritaskan untuk keperluan listrik pertanian. Sebagian besar petani gandum di India mengandalkan pompa air listrik untuk mengairi ladang mereka. Meski begitu, kehadiran listrik untuk rumah tangga menyumbang perubahan hidup bagi masyarakat desa.
”Tadinya kami mengira karena sebagian besar adalah petani gandum, masyarakat akan memanfaatkan listrik untuk menggiling gandum. Ternyata yang pertama dibeli, ya, televisi,” kata Rajiv Karla, pengawas Program Listrik Pedesaan di Distrik Jewar.
Pemerintah India menyediakan dana 364 miliar rupee atau sekitar Rp 7 triliun untuk Program Listrik Pedesaan Skema Rajiv Gandhi. Pemerintah pusat bersama pemerintah negara-negara bagian memetakan daerah pedesaan yang belum terjangkau listrik atau sudah ada jaringan listrik, tetapi belum semua masyarakat mendapat pelayanan.
Untuk melaksanakan program tersebut, dibentuk badan usaha khusus yang disebut Rural Electrification Company (REC). REC bertugas membangun jaringan distribusi sampai ke rumah tangga yang belum berlistrik. Perusahaan ini bertanggung jawab pula dalam mengelola infrastruktur jaringan kelistrikan yang dibangun dan mengawasi pembayaran iuran listrik.
Direktur Transmisi Kementerian Ketenagalistrikan India Kapil Mohan mengatakan bahwa membangun jaringan distribusi sampai ke desa lebih menjamin keberlangsungan pasokan listrik dibandingkan dengan membangun fasilitas pembangkit listrik skala kecil setempat yang memerlukan pemeliharaan rutin dan investasi tambahan.
”Membangun pembangkit listrik dengan energi setempat, seperti angin dan matahari, memakan biaya lebih besar. Padahal, tarif listrik untuk masyarakat pedesaan dan tidak mampu masih disubsidi pemerintah lebih dari setengahnya,” kata Kapil.
Karena program ini sifatnya bantuan, masyarakat yang masuk kategori miskin dibebaskan dari biaya penyambungan. Pemerintah memberi opsi tarif yang dihitung per bulan dan per dua bulan, disesuaikan kemampuan konsumen membayar.
Untuk kategori pelanggan miskin, tarif listrik per bulan hanya 60 rupee atau sekitar Rp 12.000, dan 132 rupee atau sekitar Rp 26.400 untuk per dua bulan. Adapun untuk kategori pelanggan rumah tangga pedesaan biasa, tarif per bulan 190 rupee atau sekitar Rp 38.000 dan per dua bulan 262 rupee atau sekitar Rp 52.400.
Rajiv mengatakan, pemerintah memang sengaja tidak memasang meteran listrik di setiap rumah karena biaya penyambungan akan terlalu mahal. Lagi pula, tambahnya, pemakaian listrik oleh rumah tangga di pedesaan rata-rata kurang dari 50 kWh per bulan.
Sistem waralaba
REC membuka kesempatan kepada kelompok atau badan usaha yang mau mengelola iuran listrik masyarakat desa dengan sistem waralaba. ”Mereka mendapat komisi dari jumlah iuran yang dipungut. Dengan cara ini, kami tidak perlu menempatkan petugas di daerah,” kata Rajiv.
Meskipun para pejabat pemerintah sangat optimistis akan keberhasilan Program Listrik Pedesaan Skema Rajiv Gandhi, para pengamat menilai ada beberapa kelemahan dalam program tersebut, yang berpotensi memunculkan masalah ke depan.
Prayas Energy, lembaga swadaya masyarakat yang menaruh perhatian terhadap pelayanan kelistrikan, menilai, seharusnya pemerintah menyinergikan semua program yang ada untuk meningkatkan rasio ketersediaan listrik di kalangan masyarakat pedesaan dan kurang mampu. Selain Program Rajiv Gandhi, ada beberapa program lain yang dibuat oleh pemerintah pusat dan pemerintah negara bagian yang juga bisa menjangkau mereka.
Studi yang dilakukan Prayas menunjukkan, membatasi pelayanan kelistrikan pedesaan hanya melalui pembangunan jaringan transmisi dapat berakibat kontraproduktif. Apabila sewaktu-waktu terjadi kekurangan daya yang parah, pelayanan listrik bisa terhenti. Kasus ini terjadi di Negara Bagian Bihar.
Program listrik untuk masyarakat tidak mampu dan pedesaan juga tak disertai upaya mendorong masyarakat menggunakan listrik bagi kegiatan produktif, yang selanjutnya bisa menyokong kesejahteraan rumah tangga.
Pada konferensi nasional listrik pedesaan dan masyarakat tidak mampu yang diselenggarakan di New Delhi, Agustus tahun lalu, muncul beberapa usulan untuk memperbaiki pelayanan. Usulan itu antara lain adanya alokasi khusus listrik dari pembangkit berbahan bakar murah, seperti batu bara, membangun pembangkit skala kecil, dan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kelistrikan setempat.
Konferensi menilai, alternatif pemanfaatan energi setempat—seperti biogas dan mikrohidro—untuk pembangkit perlu lebih banyak dilakukan. Dengan listrik yang dibangkitkan dari tenaga setempat, masyarakat tidak perlu bergantung kepada pasokan dari jaringan yang kerap tidak bisa diandalkan. Apabila alternatif program itu ditempuh, masyarakat pedesaan bahkan bisa menikmati listrik selama 24 jam. (DOTY DAMAYANTI)
Sumber : Kompas

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s