**60 Dusun Di Kabupaten Batang Belum Peroleh Pasokan Listrik


Menggali Potensi Listrik Mikrohidro Di Batang
Listrik sudah menjadi kebutuhan vital bagi kehidupan manusia. Kegiatan sehari-hari kita hampir tak bisa lepas dari energi listrik. Boleh dikatakan listrik merupakan kebutuhan pokok bagi kita, selain sembako. Akan tetapi, bagaimana dengan saudara-saudara kita yang belum bisa menikmati listrik akibat keterbatasan jangkauan Perusahaan Listrik Negara?
Di benak kita langsung terbayang, di dusun atau desa yang tak berlistrik pasti dalam keadaan gulita di waktu malam, masyarakatnya miskin dan terbelakang, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, kondisi kehidupan mereka memang cukup memprihatinkan.
Berdasarkan data yang ada, masih ada sekitar 60 dusun di Kabupaten Batang yang belum memperoleh pasokan listrik. Alasan utamanya adalah letak geografis dusun tersebut jauh dan terisolasi sehingga Perusahaan Listrik Negara (PLN) sulit menjangkaunya.
Di balik alasan ini, PLN sebagai perusahaan yang mencari keuntungan tentu punya alasan lain. Berapa tiang yang harus dipancang dan berapa biaya yang dibutuhkan untuk menjangkaunya? Investasi awal yang dikeluarkan oleh PLN belum tentu akan kembali mengingat kondisi penduduk di dusun terpencil rata-rata kurang mampu dan jumlahnya sedikit.
Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada jalan. Banyak potensi energi listrik di Kabupaten Batang yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).
Secara prinsip, proses kerja PLTMH sangat sederhana, yaitu air dijatuhkan atau dialirkan dari ketinggian tertentu agar dapat menggerakkan kincir yang ada pada mesin, kemudian putaran turbin tersebut digunakan untuk menggerakkan generator sehingga menghasilkan energi listrik.
PLTMH merupakan jenis pembangkit listrik yang menggunakan energi terbarukan (renewable energy) dengan memanfaatkan tenaga air skala kecil seperti air terjun atau bendungan di sungai. Selain itu, listrik mikrohidro bersifat ramah lingkungan dan tidak mengganggu jumlah pasokan air untuk pertanian sebab yang dibutuhkan hanyalah energi potensialnya.
Kabupaten jiran kita yang sudah memanfaatkan energi alternatif itu sebagai solusi mengatasi kebutuhan listrik di daerah terpencil adalah Kabupaten Pekalongan. Energi mikrohidro yang berada di Desa Curug Muncar dan Songgodadi, Kecamatan Petungkriyono, mampu mengaliri listrik sebanyak 257 rumah. Selain itu, listrik mikrohidro juga dibangun di Desa Depok, Kecamatan Lebak Barang, yang mampu mengaliri listrik sebanyak 103 rumah.
Secara umum, kondisi geografis dan potensi dikembangkannya energi alternatif mikrohidro antara Kabupaten Batang dan Kabupaten Pekalongan hampir sama. Kini tinggal menunggu kemauan kita yang tentu harus dibarengi dengan daya inovasi dan kreativitas kita agar mampu mengejar ketertinggalan dan memanfaatkan sumber daya yang ada agar dapat mencapai kemandirian energi, khususnya energi listrik. Belajar dari Rasman
Dalam mengembangkan potensi mikrohidro di Kabupaten Batang, kita tidak harus menunggu adanya uluran tangan atau bantuan baik dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat. Diharapkan akan muncul tokoh-tokoh inisiator, khususnya dari masyarakat yang berada di sekitar lokasi adanya potensi.
Kabupaten Batang memiliki dua air terjun yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi lokasi sumber listrik mikrohidro, yaitu Curug Gombong yang terletak di Desa Gombong, Kecamatan Subah, dan Curug Genting yang berada di Kecamatan Blado. Selain itu, kita juga memiliki beberapa bendungan sungai, antara lain Bendung Wonokerto, Bendung Bandung, Bendung Purbo, Bendung Dowokramat, dan lain-lain.
Kiranya kita perlu belajar banyak dari para tokoh inisiator yang menjadikan PLTMH sebagai solusi mengatasi kebutuhan listrik di daerah terpencil, salah seorang di antaranya adalah Rasman yang berasal dari Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Rasman merupakan seorang lulusan sekolah dasar yang memiliki daya inovasi dan kreativitas tinggi sehingga mampu menggerakkan warga di desanya untuk mengatasi kebutuhan listrik dengan membangun energi listrik mikrohidro. Ia bersama warganya kemudian memanfaatkan sungai kecil yang selama ini hanya digunakan sebagai saluran irigasi sawah.
Pembangunan listrik mikrohidro yang dimulai 25 Juli 2005 tersebut akhirnya membuahkan hasil. Sejak 15 April 2006, PLTMH yang dibangun Rasman beserta warga dapat mengaliri lebih dari 120 rumah dan setiap rumah mendapat jatah sekitar 100 watt.
Pembangkit listrik mikrohidro di Desa Cibuluh itu kemudian dikelola secara bersama-sama menjadi semacam “PLN lokal”. Maksudnya, warga pengguna listrik dari PLTMH ini juga dikenai biaya atau tarif sesuai dengan beban pemakaian.
Meskipun demikian, uang hasil penjualan listrik PLTMH di Desa Cibuluh tersebut dikembalikan lagi ke kas desa dan dapat dipakai oleh warga yang membutuhkannya. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pembangunan PLTMH bukan saja mengatasi kebutuhan listrik, melainkan juga berdampak pada peningkatan ekonomi warga.
Kita berharap akan muncul Raswan-Raswan lain di Kabupaten Batang. Dusun-dusun terpencil di Kabupaten Batang yang semula gulita di waktu malam berubah menjadi benderang. Anak-anak sekolah dapat belajar dengan giat di waktu malam. Selain itu juga akan terjadi peningkatan keamanan, estetika lingkungan, dan peningkatan ekonomi secara signifikan. EDI WINARNO AS Anggota METI (Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia), Mahasiswa Pascasarjana Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang, Bekerja di Pemerintah Kabupaten Batang

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s