**China dan Rusia Bujuk Iran Untuk Terima Tawaran PBB Dalam Pengayaan Uranium


TAJUK RENCANA
Layanan Publik Jakarta
Keluhan berkepanjangan terkait pelayanan bus transjakarta bisa dianggap lumrah, bisa juga serius. Lumrah di era Reformasi ini orang bebas mengeluh.
Serius sebab menyentuh ke masalah belum terpenuhinya salah satu hak warga masyarakat Jakarta memperoleh layanan publik. Kasus bus transjakarta hanya satu contoh masalah layanan publik. Moda transportasi massal tinggalan Sutiyoso itu dikonsep untuk mengurangi beredarnya mobil-mobil pribadi. Kenyataannya, lalu lintas Jakarta tetap padat dan semrawut, yang memang tidak hanya disebabkan kebijakan bus transjakarta, tetapi juga oleh banyak faktor lain. Namun, dalam konteks tugas pokok pemerintah menyelenggarakan layanan publik, kondisi ini ibarat gunung es terabaikannya hak layanan publik.
Karena sudah bayar pajak, warga berhak memperoleh layanan publik. Layanan publik tidak lagi konsep tentang kekuasaan itu melayani, melainkan keharusan yang imperatif sifatnya. Beres dan tidaknya urusan transportasi massal menjadi ukuran berhasil dan tidaknya birokrasi.
Beresnya urusan transportasi menjadi salah satu faktor Jakarta sebagai salah satu kota metropolis di Asia, rencana makro-pembangunan Kota Jakarta di masa depan. Selain transportasi, masih ada soal lain, yakni banjir yang mengancam dan memang selalu terjadi setiap musim hujan.
Semakin tidak imbangnya daya dukung lingkungan dengan pertambahan jumlah penduduk sekadar kita sebut faktor lain yang tidak pernah terselesaikan. Perwujudan proyek massal, seperti proyek Kanal Banjir Timur yang tidak rampung-rampung, mangkraknya tiang-tiang rencana proyek monorel, dan pembangunan kereta bawah tanah, merupakan wacana dan janji setiap pemimpin Jakarta.
Di masa depan tampaknya Jakarta tidak mencukupi lagi menjadi tempat ibu kota negara sekaligus ibu kota provinsi. Ketika kita berkutat dengan seabrek persoalan, selalu terngiang angan-angan pemisahan Kota Jakarta untuk urusan administrasi kenegaraan dan administrasi pemda, antara urusan bisnis dan urusan pemerintahan. Pernah digagas bahkan dirintis proyek pemindahan urusan sebagian Kota Jakarta ke Jonggol. Rencana itu mangkrak. Praksis pemerintahan pun beringsut-ingsut dengan program-program kecil yang berupa tambal sulam.
Buruknya pelayanan publik, kasus bus transjakarta dan proyek monorel sebagai dua contoh, sebenarnya mengentakkan kembali program-program yang beyond, cara berpikir yang holistik keluar dari proyek ”ingsut-ingsut”. Catatan ini tidak bermaksud mengurangi rasa apresiatif praksis pemerintahan Fauzi Bowo-Prijanto. Banyak hal sudah dilakukan untuk masyarakat.
Catatan ini mengajak kita berpikir nggiwar (lateral thinking) dengan layanan publik sebagai acuan, yang merangsang kita berpikir serba beyond keluar dari paradigma ”ingsut-ingsut”. Aktual kembali berpikir tentang pemisahan urusan bisnis dan urusan pemerintahan, seperti Washington DC dan New York! Mengapa tidak?
***
Iran dan Tekanan China, Rusia
Negara-negara yang keberatan dengan terus berlangsungnya program nuklir Iran tampaknya tak kunjung berhenti untuk memberikan tekanan.
Bentuk tekanan yang sudah sering kita dengar adalah mulai dari sanksi ekonomi, isolasi politik, hingga kemungkinan serangan militer. Biasanya negara yang paling gencar menekan adalah Amerika Serikat. Namun, pekan ini kita mendengar, China dan Rusia yang biasanya mengambil sikap lebih lunak dibandingkan AS juga ikut memberikan tekanan terhadap Iran.
Tersiar berita bahwa pada awal bulan ini ada utusan China dan Rusia yang datang ke Teheran dan membujuk Pemerintah Iran untuk menerima rencana PBB mengenai program pengayaan uranium. Namun Iran menolak.
Dengan penolakan Iran itu, pengamat melihat ruang untuk manuver diplomatik tampak semakin menciut. Boleh jadi ini merepotkan bagi China dan Rusia yang selama ini diketahui lebih mendukung upaya penyelesaian krisis melalui diplomasi.
Dari pihak Rusia sendiri muncul pandangan, kalau Iran bersikukuh, Rusia akan sulit untuk tidak ikut dalam menerapkan sanksi. Meski demikian, Rusia sudah memperlihatkan sikap bahwa sanksi yang bisa ia sepakati adalah yang konteksnya untuk mencegah penyebarluasan senjata nuklir, bukan yang sifatnya melumpuhkan dan ditujukan untuk menghukum, atau bahkan untuk mengganti rezim.
Sementara pihak China sendiri dikabarkan akhirnya juga sepakat untuk ambil bagian secara substantif untuk isu ini. Sebagaimana disebutkan Duta Besar China untuk PBB Li Baodong, negaranya punya komitmen terhadap Traktat Nonproliferasi Nuklir, dan selain itu juga menginginkan adanya perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Meski terdengar tegas, langkah kebijakan apa persisnya yang akan ditempuh terhadap Iran dirasa belum jelas.
Isu ini sengaja kita angkat karena di satu sisi seperti memunculkan angin baru, yaitu bahwa China dan Rusia yang biasanya lebih lunak terhadap Iran dibandingkan AS sekarang seperti menempuh langkah berbeda. Pada sisi lain, kita juga bertanya, betulkah ada kebijakan baru di Moskwa dan Beijing? Hal ini kita kaitkan dengan munculnya berita lain, yaitu dimulainya pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Bushehr, Iran, yang dipasok Rusia. Oleh Menlu AS Hillary Rodham Clinton, hal ini dilihat bisa menyulitkan dilakukannya sikap terpadu untuk menekan Iran, karena Rusia pasti akan kikuk.
Dengan cara pandang yang beragam, dan proses berbelit, benang merah yang selalu kita tangkap adalah baik China maupun Rusia memang pada dasarnya tidak ingin dikesankan mau diatur-atur oleh AS. Kedua, dari pihak Iran, pendukung program nuklir dan kalangan nasionalis akan tetap bersikukuh dengan program yang kini dijalankan, karena ia melihat preseden. Kalau Israel saja boleh punya senjata nuklir, mengapa pihaknya harus dilarang-larang.
Sumber : Kompas

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s