**Dusun Banyumeneng I, Giriharjo, Panggang, Gunung Kidul


ENERGI TERBARUKAN
Surya “Sirami” Banyumeneng
Oleh LUKAS ADI PRASETYA/GESIT ARIYANTO
Masalah air tak lagi menyusahkan Paito (39), warga Dusun Banyumeneng I, Giriharjo, Panggang, Gunung Kidul. Bak panampungan air di dekat rumahnya selalu terisi membuat ia dan ratusan tetangganya tenang. Setidaknya, mereka tak perlu lagi menempuh jarak 1,5 kilometer ke sumber air Kali Gede ketika kemarau.
Urusan mengambil air menjadi lama dan melelahkan karena kondisi berbukit dan jalan setapak yang tak beraspal. Enggan lelah, pilihannya beli air. Sesekali, Paito melakukannya. Satu tangki berisi 5.000 liter air ditebus Rp 125.000.
Satu tangki itu biasanya habis dalam tiga pekan dengan syarat irit. Bagi petani kecil seperti dirinya, ongkos itu mahal.
Asa muncul setelah Dusun Banyumeneng I menjadi lokasi proyek pengangkatan air bertenaga surya (Solar Water Pumping System) atas prakarsa mahasiswa Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM). Proyek dibangun pertengahan tahun 2008 dan 2009 memanfaatkan dua kloter mahasiswa peserta kuliah kerja nyata (KKN) bersama masyarakat.
Dana pembangunan hampir Rp 200 juta merupakan hasil lomba tingkat dunia, Mondialogo Engineering Award di India, yang diikuti mahasiswa Teknik Fisika tahun 2006.
Pada lomba yang disponsori UNESCO dan Daimler, perusahaan otomotif terkemuka Jerman itu, tim Teknik Fisika UGM yang bekerja sama dengan Curtin University of Technology Australia, menyabet juara pertama dan berhak atas hibah 20.000 euro.
Ajang lomba itu untuk menjaring ide kreatif mahasiswa yang akan diaplikasikan pada proyek berkesinambungan di masyarakat. Namun, tetap berpijak pada pemanfaatan teknologi. ”Kami juga ingin bermanfaat bagi masyarakat,” kata mantan Ketua Komunitas Mahasiswa Sentra Energi (Kamase) Tahun 2005 Dinar Ari Prasetyo, yang sejak awal terlibat pada proyek tersebut.
Cara kerja
Cara kerja yang dikembangkan para mahasiswa untuk mengangkat air sebenarnya sederhana. Panel surya yang diletakkan di puncak bukit dusun itu akan menangkap panas matahari.
Setidaknya, dalam sehari, 4,5 jam matahari bersinar terik, seperti saat peresmian Kamis, kemarin. Sel surya akan mengubah panas menjadi energi listrik. Jika cuaca terik, listrik yang dihasilkan mencapai 1.200 wattpeak. Listrik akan menggerakkan pompa bertekanan tinggi di bawah kaki bukit yang digunakan untuk menyedot air.
Pompa bertipe submersible pump merek Lorentz Jerman itu tergenang di dalam sumber air. Tipe pompa seperti itu kuat menyedot air. Apalagi, untuk mengangkat air setinggi 88 meter (vertikal) melalui pipa yang ditanam sejauh 1,6 kilometer menuju bak penampungan utama dengan debit 5-7 liter per detik.
Dari bak tersebut, air lalu dialirkan lagi ke enam bak penampungan di bawahnya. Enam bak tersebut berjarak puluhan meter dari rumah warga.
Saat ini, di Banyumeneng I terdapat 119 keluarga atau 485 jiwa. Penerapan sistem itu, setidaknya memberi ”oase” bagi 52 keluarga atau sekitar 200 penduduk. ”Kami masih akan terus kembangkan,” kata Dinar.
Air memang tak selamanya mengucur karena sistem mutlak bergantung pada sinar matahari. Sore hingga pagi panel surya tentu tak mendapat cukup suplai sinar mentari. Namun, sejauh ini bermanfaat nyata bagi warga.
Sejak air mengalir ke bak-bak rumah warga, kebiasaan warga mulai berubah.
”Saya dan keluarga kalau mandi bisa memakai banyak air. Mencuci juga bisa. Airnya bagus, bening, seperti air tanah biasa,” kata Sukiran, Kepala Dusun Banyumeneng I.
Warga cukup memberikan iuran Rp 15.000 per bulan untuk berlangganan. Sukiran mengalkulasi, pengeluarannya untuk air bisa ditekan Rp 200.000 per bulan. Bisa untuk dialokasikan biaya sekolah anak bungsunya yang menginjak bangku SMA.
Pada peresmian hari Kamis (25/3) lalu, sejumlah warga mengungkapkan kepuasan dan kelegaannya. Mereka kini bisa merasakan air bersih masuk di bak-bak rumah, seperti tetangga di Dusun Banyumeneng II dan III, yang terjangkau layanan pipa PDAM.
Manfaat untuk warga
Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX yang meresmikan pengangkatan air tenaga surya itu secara khusus memberi apresiasi kepada para mahasiswa.
”Semoga ini memacu mahasiswa lain untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menggarisbawahi dampak ikutan yang bisa dinikmati warga. Dengan air yang mengucur langsung ke rumah, ada waktu luang yang dulu digunakan untuk mengambil air. ”Mudah-mudahan waktu luang dimanfaatkan secara produktif sehingga turut meningkatkan kesejahteraan,” katanya.
Sementara Bupati Gunung Kidul Suharto menyoroti peran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang memberikan solusi nyata bagi masyarakat merupakan anugerah yang patut disyukuri. Namun, teknologi saja tidak cukup tanpa menerapkan pendekatan budaya terhadap masyarakat lokal.
Sebenarnya, sistem pengangkatan air itu beroperasi pada Agustus 2009, sebelum mati karena gangguan teknis pompa pada September 2009. Butuh waktu hingga tiga bulan sebelum akhirnya beroperasi lagi setelah suku cadang didatangkan dari Jerman.
Warga Dusun Banyumeneng I kini tersenyum lagi karena urusan air mulai teratasi. Bukan tidak mungkin hambatan operasional terulang, meskipun soal perawatan dan pemeliharaan sudah diantisipasi.
Sinergi mahasiswa dan masyarakat terbukti menghasilkan solusi nyata. Iptek menunjukkan peran vitalnya, yang membebaskan keprihatinan karena terlepas dari kungkungan birokrasi yang kaku dan mematikan.

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s