**Krisis Listrik Melanda Sumatera Utara.


KELISTRIKAN
Investor Keluhkan Listrik di Sumut
Medan, Kompas – Sejumlah investor asing dan dalam negeri mengeluhkan krisis listrik yang lagi-lagi melanda Sumatera Utara. Beberapa investor asing yang sudah menyatakan akan masuk ke Sumut belakangan ini bahkan membatalkan rencana mereka setelah mengetahui kondisi listrik yang demikian.
Kepala Badan Investasi dan Promosi Sumut Salman Ginting di Medan, Sumut, Selasa (23/2), mengatakan, investor asal Jepang yang tertarik mengeksploitasi batu silikon di Tapanuli Utara resmi membatalkan investasinya setelah pemerintah tak dapat menjamin pasokan listrik.
”Padahal, mereka sudah membandingkan batu silikon di Myanmar dan Vietnam dengan yang ada di Tapanuli Utara. Menurut mereka, silikon dari Tapanuli Utara terbaik. Tetapi, begitu akan membangun pabriknya di Kabupaten Batu Bara dan tidak ada jaminan listrik, mereka membatalkan investasinya. Menurut mereka, 85 persen operasional pabrik bergantung kepada ketersediaan listrik,” papar Salman.
Badan Investasi dan Promosi Sumut juga menerima surat resmi berisi keluhan investor terkait pemadaman bergilir yang sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. ”Saya sudah baca surat keluhan dari investor. Kami juga bingung karena memang tak ada jaminan dari PLN (Perusahaan Listrik Negara),” ujar Salman.
Komitmen PLN terhadap dunia usaha diragukan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), sebagaimana disampaikan Sekretaris Umum Apindo Sumut Laksamana Adiyaksa. ”Saat krisis listrik tiga tahun lalu, pengusaha dan PLN sudah membuat komitmen, pemadaman yang terjadi tidak merugikan dunia usaha. Tetapi, ternyata komitmen itu dilanggar PLN,” katanya.
Pengusaha di Sumut, lanjut Laksamana, selama ini mengeluhkan langkanya infrastruktur energi berupa listrik dan gas. ”Ketika kami tanya ke PGN (Perusahaan Gas Negara) selaku penyedia gas, mereka bilang gasnya habis untuk PLN. Tetapi, PLN tak mampu menyediakan listrik sesuai kebutuhan kami. Pengusaha akhirnya bingung,” kata Laksamana.
Kerusakan
Krisis listrik di Sumut kali ini dipicu kerusakan pada Gas Turbin (GT) 21 Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Sicanang, Belawan. GT 21 memiliki kapasitas 190 megawatt (MW), sedangkan total kapasitas terpasang PLTGU Sicanang 935 MW. Kebutuhan listrik saat beban puncak di Sumut mencapai 1.410 MW.
Deputi Manajer Hukum dan Komunikasi PLN Pembangkitan Sumatera Bagian Utara Maradjohan Batubara mengakui, kerusakan GT 21 memang berakibat cukup fatal pada pemenuhan kebutuhan listrik di Sumut. GT 21, kata Maradjohan, sebenarnya tengah menjalani perawatan berkala utama (major overhaul) setelah menjalani masa operasi 100.000 jam.
”Malah, perawatan terpaksa dilakukan setelah GT 21 beroperasi 130.000 jam atau melebihi kemampuan operasionalnya. Akibatnya, kami terpaksa menyesuaikan berbagai komponen pengganti meski komponen tersebut merupakan suku cadang asli,” ujar Maradjohan.
Baru sehari setelah major overhaul selesai, ditemukan kerusakan pada saluran bahan bakar GT 21. Kondisi ini memaksa PLN kembali menghentikan operasi GT 21 PLTGU Sicanang.
Rencananya, jika GT 21 selesai diperbaiki dan kembali beroperasi, PLN akan melakukan major overhaul pada GT 22 yang juga punya kapasitas 190 MW. Seperti halnya GT 21, GT 22 pun membutuhkan waktu dua bulan untuk perawatan. Selama waktu itu GT 22 tak akan dioperasikan.
Keluhan tak hanya datang dari pengusaha, tetapi juga dari masyarakat. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumut, misalnya, terpaksa mengikuti pelajaran di kampus dengan penerangan lilin. (MHF/NDY/BIL)

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s