**Masyarakat Masih Gelap, Segelap Pemadaman Bergilir Di Sumatera Utara


PLTA ASAHAN III, Ganjalan Terakhir Sepekan terakhir polemik antara Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin dan Direktur Utama PLN Dahlan Iskan mencuat di berbagai media terbitan Medan.

Sayangnya, polemik ini tak memberi pemahaman terhadap masyarakat Sumut soal bagaimana seharusnya sebuah pembangkit listrik dibangun. Masyarakat masih gelap, segelap pemadaman bergilir yang masih terjadi di Sumut.

Mari kita lihat apa yang menjadi duduk perkara dalam persoalan izin lokasi PLTA Asahan III. Syamsul hingga kini masih enggan memberikan izin lokasi pembangunan PLTA Asahan III kepada PLN. Sebaliknya, Dahlan dalam beberapa hari ke depan akan segera mengeluarkan surat keputusan pengangkatan pejabat PLN yang akan bertanggung jawab terhadap pembangunan PLTA Asahan III.

Alasan Syamsul sesungguhnya sangat mulia. Sebagai Gubernur Sumut, dia ingin memastikan jika PLTA Asahan III dibangun PLN, perusahaan setrum milik negara itu harus mengalirkannya kepada rakyat Sumut. Syamsul berujar, sebelum diberikan surat izin lokasi pendirian proyek Asahan III ini kepada PLN, harus jelas penandatanganan dan perjanjian bahwa PLTA untuk kebutuhan listrik Sumut (Analisa, 21/5). Bahkan, jika PLN ngotot membangun PLTA Asahan III tanpa izin lokasi Gubernur, Syamsul menyatakan, bubarlah republik ini (Sumut Pos, 21/5). Intinya, Syamsul ingin komitmen hitam di atas putih dari PLN bahwa kalau izin lokasi yang dia berikan, listrik PLTA Asahan III harus untuk rakyat Sumut. Alasan yang tentu amat sangat mulia.

Benarkah Syamsul semulia itu untuk urusan ini. Ataukah ini hanya dalih agar izin lokasi dari gubernur tetap dipertahankan untuk perusahaan swasta. Alih-alih kepentingan rakyat jadi alasan, padahal izin lokasi dari Gubernur Sumut yang telah keluar semasa Rudolf Pardede diberikan kepada perusahaan swasta. Nah, di sini rakyat Sumut harus paham seluk-beluk pembangunan pembangkit listrik, terutama dari Undang-Undang (UU) Ketenagalistrikan.

UU Ketenagalistrikan memberi peluang bagi swasta ikut dalam bisnis listrik ini. Akan tetapi, swasta hanya dibatasi di sektor hulu. Mereka boleh membangun pembangkit. Namun, untuk menjual listriknya, swasta tetap harus melalui PLN. Perusahaan negara ini masih memonopoli sektor hilir. Distribusi listrik dari pembangkit ke pelanggan umum dan industri tetap wewenang PLN. Sederhananya, PLN-lah yang menguasai saluran tegangan tinggi, tiang listrik, dan meteran di rumah.

Lalu, bagaimana jika swasta ingin membangun pembangkit listrik? Setelah swasta menentukan lokasi yang hendak dibangun (yang tentunya sudah dibicarakan pemerintah), mereka kemudian bernegosiasi dengan PLN soal berapa harga listrik yang akan mereka jual. Bila swasta sudah bersepakat dengan PLN tentang harga jual ini, ditandatanganilah dokumen power purchase agreement alias PPA. Dokumen PPA ini menegaskan, swasta yang hendak membangun pembangkit ini, listriknya sudah pasti dibeli PLN.

Apa pentingnya PPA ini? PPA digunakan swasta untuk mencari dana kepada kreditor untuk membiayai pembangunan pembangkit mereka.

Sekarang, mari kita lihat seberapa mulia Syamsul meminta komitmen PLN untuk menyalurkan listrik PLTA Asahan III kepada rakyat Sumut. Ada dua pihak yang ingin membangun PLTA Asahan III. Satu pihak adalah PLN, di pihak lain adalah swasta yang telah diberi izin lokasi oleh Gubernur Sumut.

Anggaplah swasta yang akhirnya membangun PLTA Asahan III. Toh, mereka harus tetap menjual listriknya kepada PLN. Kemudian, PLN yang menentukan akan menyalurkan ke mana listrik tersebut. Jadi, apa bedanya jika PLTA Asahan III tersebut dibangun PLN?

Menjadi aneh jika Syamsul masih keberatan mengeluarkan izin lokasi kepada PLN. Apalagi dengan alasan PLN belum menandatangani komitmen bakal menyalurkan listrik PLTA Asahan III untuk rakyat Sumut.

Karena itu, siapa pun yang membangun PLTA Asahan III, sesuai dengan UU Ketenagalistrikan, tetap saja PLN yang berwenang penuh menyalurkannya. (KHAERUDIN)

Sumber : Kompas

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s