**Para Ahli Jepang Bicarakan PLTN Anti Gempa


LAPORAN IPTEK
Kuliah Nuklir Jepang
NINOK LEKSONO
Kali ini yang bicara adalah Jepang. Para ahli Jepang yang hadir di Jakarta dan berceramah di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), 18 Maret lalu, memperkenalkan kecanggihan teknologi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang kini dikuasainya. Kecanggihan bukan saja dalam desain pembangkitan daya, tetapi juga sistem pengamanannya dan—mengingat kondisi Indonesia sama dengan Jepang yang rawan gempa bumi—pembicara pun membahas panjang lebar tentang perlindungan PLTN dari ancaman gempa.
Pada era pemanasan global, ditambah dengan sering bergejolaknya harga minyak, argumen untuk beranjak ke PLTN memang mendapatkan gaung baru. Sebelumnya perlu dikemukakan bahwa PLTN dalam wacana politik energi dunia memang mengalami pasang surut. AS yang sudah mengoperasikan 104 PLTN dengan total agregat 101 Gigawatt (GW) listrik memang tidak membangun PLTN lagi sejak tahun 1970. Namun, minat untuk kembali ke PLTN kini mulai hidup, sementara Eropa yang sejak kecelakaan Chernobyl tahun 1986 dilanda ketakutan, seperti halnya Swedia, menempuh langkah ekstrem untuk menutup PLTN.
Fenomena lain tampak di ekonomi yang beberapa waktu terakhir mengalami pertumbuhan cepat, seperti Rusia, India, dan China. Jepang sendiri punya 53 PLTN (situs Japan Nuclear menyebut 55) dengan daya total sebesar hampir 50 GW.
Sekadar melengkapi latar belakang, World Nuclear Association, Maret 2009, menyebutkan, saat ini ada 436 PLTN yang dioperasikan di 30 negara dengan total pembangkitan listrik sebesar 372 GW. Kontribusi nuklir terhadap pembangkitan energi dunia sebesar 15 persen.
Menguasai energi nuklir
Sebagaimana Perancis yang sebagian besar (76 persen) sumber energi dalam negerinya berasal dari nuklir, Jepang—walaupun hanya mengandalkan sepertiga energi dari nuklir—merasa amat diuntungkan dengan pemanfaatan energi nonkonvensional ini. Di situs Japan Nuclear disebut, sebagai negara kepulauan, Jepang tak mungkin berbagi energi dengan negara tetangga melalui kabel transmisi. Jepang juga tak punya sumber energi sehingga sekitar 80 persen sumber energinya bergantung pada negara asing.
Dengan latar belakang itu, hal yang rasional bila Jepang lalu terus bertekad untuk memanfaatkan energi nuklir sebagai salah satu tulang punggung pasokan energi nasionalnya. Selain meningkatkan pasokan energi, nuklir juga meningkatkan stabilitas pasokan energi. Jepang juga menambahkan faktor tanggung jawab untuk mengurangi emisi karbon dioksida.
Hal lain yang juga diunggulkan dalam pengoperasian PLTN adalah biaya pembangkitan yang lebih murah dibandingkan dengan energi lain. Menurut Koyama, biaya untuk pembangkitan energi hidroelektrik (melalui bendungan, misalnya) per kWh (kilowatt jam) dalam yen adalah 8,2-13,3, untuk minyak 10,0-17,3, LNG 5,8-7,1, batu bara 5,0-6,5, surya 46, angin 10-14, sementara nuklir 4,8-6,2.
Dengan keyakinan akan nilai strategisnya, juga akan ekonomisnya, dan akan keamanannya, Jepang maju terus dengan program energi nuklir, bahkan tak ragu untuk menawarkan penguasaan teknologi PLTN kepada negara lain, termasuk Indonesia.
Paparan Prof Michio Ishikawa dari JANTI (Lembaga Teknologi Nuklir Jepang) memperlihatkan proses pembelajaran para ilmuwan dan insinyur Jepang dalam memahami keamanan dan keselamatan operasi PLTN mulai dari tahun 1960-an hingga sekarang ini.
Lalu, ketika pengoperasian PLTN juga terkena ancaman gempa bumi, Jepang pun mendalami pengaruh gempa melalui analisis statistik gempa dan riset konstruksi sipil bangunan PLTN di kawasan gempa.
Rencana Indonesia
Bisa saja seminar seperti yang diadakan oleh Kementerian Ristek, Batan, Kementerian ESDM, dan mitra-mitra Jepang tak lebih dari sekadar promosi. Namun, menimbang perkembangan yang ada sejauh ini, boleh jadi semua yang dipaparkan oleh Jepang tak lebih dari sekadar briefing atau pemutakhiran teknologi.
Semua itu karena Indonesia sebenarnya sudah serius mewacanakan penggunaan PLTN sejak dekade 1980-an, bahkan taksiran daya dan pemasok pun sudah disebut-sebut. Akan tetapi, seperti yang kita saksikan, hingga kini belum ada satu pun PLTN yang beroperasi di Tanah Air. Bahkan, keputusan tegas dari pemerintah mengenai kapan dan apa jenis pembangkit nuklir yang akan dipakai pun belum ada. Padahal, energi nuklir sudah disebut dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang RI 2005-2025, juga dalam UU No 10/1997 tentang Energi Nuklir.
Tidak heran apabila seusai paparan Kepala Batan Hudi Hastowo dan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) As Natio Lasman, seorang peserta seminar bertanya apa sebabnya setelah semua siap dan diwacanakan, tetapi tak kunjung ada keputusan untuk melangkah ke PLTN.
Boleh jadi pemanasan global dan pengalaman dipecundangi oleh harga minyak akan membulatkan tekad Pemerintah Indonesia satu hari nanti, di tengah terus adanya tentangan tidak saja dari akademisi, LSM, tetapi juga dari masyarakat awam. Namun, perjalanan selama tiga dekade terakhir yang diliputi oleh wacana dan keraguan tampaknya masih akan terus mewarnai sikap pemerintah soal pemanfaatan energi nuklir.
Jadi, ketika para proponen nuklir menilai Indonesia sudah tak lagi dalam fase pengkajian, tetapi seharusnya sudah masuk fase implementasi, itu merupakan pandangan optimistis kalau bukan nggege mongso (mendahului masa).
Tanpa PLTN, sejumlah ahli nuklir telah merasa under-employment sehingga—seperti ahli penerbangan kita—mereka juga mulai mencari karier dan penghidupan lebih layak di negara lain yang sudah mampu membuat keputusan. Indonesia tak lama lagi mungkin harus belajar kepada Malaysia, Thailand, Vietnam, dan bahkan Singapura dalam soal pemanfaatan energi nuklir.
Sumber : Kompas

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s