**Pemanfaatan Energi Panas Bumi Dan Tenaga Air Ditargetkan Mencapai 3.583 MW dan 1.174 MW Pada 2014


ENERGI
Pemerintah Optimistis Target Terpenuhi
Jakarta, Kompas – Meskipun insentif perpajakan dan kepabeanan serta kebijakan tarif produksi listrik energi terbarukan yang ditawarkan masih terbatas, pemerintah optimistis bahwa target penggunaan energi terbarukan dalam proyek pembangunan pembangkit listrik 10.000 megawatt tahap kedua bisa terpenuhi. Pemanfaatan energi panas bumi dan dan tenaga air ditargetkan mencapai 3.583 MW dan 1.174 MW pada 2014.
Hal itu disampaikan Deputi Direktur Energi Baru dan Terbarukan serta Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harris di sela seminar peluang sektor usaha dalam energi terbarukan yang berlangsung di Jakarta, Selasa (5/5).
”Memang, insentif dan penentuan tarif yang diberikan pemerintah masih sangat terbatas dibandingkan negara yang lain. Namun, model penetapan tarif sebagaimana diatur Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 Tahun 2009 sudah sangat menguntungkan, terutama investor pembangkit listrik tenaga mikrohidro,” kata Harris.
Dia menjelaskan, selain kebijakan tarif itu, Menteri Keuangan juga menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 21/PMK.011/2010 tentang Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Hulu Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi serta Kegiatan usaha Eksplorasi Panas Bumi untuk Tahun Anggaran 2010.
Selain itu, ada pula PMK Nomor 24/PMK.011/2010 tentang Pemberian Fasilitas Perpajakan dan Kepabeanan untuk Kegiatan Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan.
Didominasi minyak bumi
Hingga 2006, konsumsi energi Indonesia masih didominasi minyak bumi (51,6 persen), gas alam (28,7 persen), batu bara (15,3 persen). Konsumsi energi dari tenaga air dan panas bumi masing-masing baru mencapai 3,1 persen dan 1,3 persen.
Harris mengakui, hingga kini pertumbuhan energi terbarukan belum signifikan. ”Namun, kami optimistis target 17 persen energi terbarukan pada 2025 akan terpenuhi,” katanya.
Untuk meningkatkan keelektrikan, Kementerian ESDM akan menganggarkan dana alokasi khusus (DAK) energi terbarukan mulai 2011. Dana itu diharapkan merangsang pemerintah daerah untuk mengembangkan energi terbarukan.
”Pada 2009, kami menyalurkan 70.000 solar home system dan masih berlanjut pada tahun ini. Mulai 2011, proyek energi terbarukan akan disalurkan melalui DAK kepada pemerintah daerah. Dana itu bisa berupa pengadaan solar home system, pembangunan mikrohidro, ataupun energi terbarukan lainnya,” kata Harris.
Selaku pembicara dalam seminar itu, pakar energi alternatif Thailand, Boonrod Sajjakulnukit, mengatakan, Thailand menargetkan kontribusi energi terbarukan dalam energy mix naik dari 0,5 persen pada 2003 menjadi 8 persen 2011.
Pada 2022, Thailand menargetkan 20,3 persen dari total konsumsi energinya akan bersumber dari energi terbarukan. Bendungan berskala besar diperhitungkan sebagai bagian dari pencapaian target itu.
”Kami menerapkan banyak skema insentif untuk pemanfaatan energi terbarukan, mulai dari tax holiday delapan tahun, pinjaman lunak, penyertaan modal pemerintah, dan insentif lainnya. Energi terbarukan penting untuk menggantikan impor energi kami yang pada 2009 mencapai lebih dari 23 miliar dollar AS,” kata Sajjakulnukit. (ROW)

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s