**Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Tawar


KELISTRIKAN
Krisis Gas, Biaya Bertambah Rp 2,4 Triliun
Jakarta, Kompas – Biaya operasional PT Perusahaan Listrik Negara tahun ini diperkirakan bertambah Rp 2,4 triliun. Hal ini terjadi karena pengurangan pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Muara Tawar.
Menurut Direktur Energi Primer PT PLN Nur Pamudji, Selasa (23/3) di Jakarta, realisasi pasokan gas dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) ke PLTGU Muara Tawar tahun 2009 mencapai 250 miliar british thermal unit per day (BBTUD). Sejak 1 Maret, pasokan gas dari PGN untuk PLN berkurang dari 200 BBTUD menjadi 100 BBTUD.
Pasokan gas 100 BBTUD untuk PLTGU Muara Tawar itu hanya cukup untuk satu blok dari sejumlah blok di PLTGU itu. ”Kemungkinan penurunan pasokan gas bisa sampai Desember tahun ini,” kata Nur Pamudji.
Hal ini menyebabkan PT PLN memakai bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik. Dengan kekurangan pasokan gas, kebutuhan BBM tahun ini diperkirakan naik 618 kiloliter. Padahal, biaya pokok produksi listrik memakai BBM empat kali lebih mahal dibandingkan gas.
Biaya pokok produksi PLN, jika menggunakan bahan bakar gas tahun 2009, rata-rata Rp 318 per kWh. Adapun jika menggunakan BBM, Rp 1.383 per kWh. Sementara jika memakai batu bara, Rp 362 per kWh. ”Dengan memakai BBM, biaya operasional bertambah Rp 2,4 triliun tahun 2010,” ujar Nur Pamudji.
Selama ini, PT PLN memperoleh gas untuk PLTGU Muara Tawar dari PT PGN. Kedua perusahaan negara itu menandatangani dua kontrak pasokan gas. Kontrak pertama untuk pasokan gas 200 BBTUD, kontrak kedua bersifat sewaktu-waktu dapat dihentikan sebanyak 100 BBTUD. ”Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi belum bisa memastikan pasokan gas untuk PLN. Kami berharap ada solusi secepatnya,” kata Nur Pamudji.
Kepala Divisi Keuangan Korporat PT PLN Yusuf Hamdani menyatakan, penambahan biaya operasional itu akan meningkatkan realisasi subsidi listrik.
Pinjaman 100 juta dollar
Sementara itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) dan lembaga donor dari Perancis, Agence Agence Française de Développement, menyediakan pinjaman 100 juta dollar AS bagi PLN untuk memperbaiki jaringan distribusi listrik agar terjadi penghematan energi dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Dewan Direksi ADB menyetujui pemberian pinjaman 50 juta dollar AS untuk proyek peningkatan kinerja jaringan listrik Jawa-Bali. Adapun lembaga donor dari Perancis menyediakan pinjaman dengan jumlah sama.
Hal ini dukungan terhadap program efisiensi energi PT PLN yang butuh investasi 1,2 miliar dollar AS periode 2010-2014. ”Proyek ini akan mengurangi emisi karbon 330.000 ton per tahun dan menghemat energi 200 megawatt atau setara penambahan 1,2 juta pelanggan di Jawa-Bali,” kata ahli energi dari ADB, Sohail Hasnie.
Pinjaman ADB berjangka waktu 25 tahun, termasuk masa tenggang lima tahun. Adapun pinjaman dari lembaga donor dari Perancis berjangka waktu 15 tahun, termasuk masa tenggang lima tahun. (EVY)

Iklan

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s