**PLN Pinjam Uang Rp 21 Triliun PLN Terbitkan Obligasi


Butuh Dana Pinjaman Sebesar Rp 21 Triliun
Jakarta, Kompas – PT Perusahaan Listrik Negara optimistis memperoleh dana pinjaman Rp 21 triliun menyusul keputusan pemerintah menaikkan margin usaha 3 persen. Kebutuhan dana untuk investasi itu akan diperoleh melalui penerbitan obligasi ataupun pinjaman bank.
Direktur Keuangan PT PLN Setio Anggoro Dewo dalam siaran pers, Kamis (7/1) di Jakarta, menyatakan, pihaknya menyambut baik usulan pemerintah mengenai kenaikan margin usaha dari 5 persen menjadi 8 persen karena akan menambah kemampuan investasi PLN.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, kemampuan pendanaan PLN perlu ditingkatkan agar lebih leluasa melaksanakan aksi korporasi. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan margin dari 5 persen menjadi 8 persen tahun 2010. Usulan kenaikan margin itu segera dibahas dengan DPR.
Dengan penambahan margin itu, PLN bisa meningkatkan kemampuan mendapat pinjaman Rp 21 triliun. Dana pinjaman itu akan digunakan untuk investasi, seperti penguatan sistem kelistrikan di kota-kota besar di Jawa, dana pendamping untuk program 10.000 megawatt, dan pembangunan jaringan distribusi dapat dijalankan sesuai rencana.
Kebutuhan dana itu akan dipenuhi melalui pasar modal di dalam dan luar negeri ataupun pinjaman bank. ”Sampai saat ini komunitas pasar keuangan menunjukkan tingkat kepercayaan tinggi sehingga PLN bisa memperoleh pinjaman itu dengan harga kompetitif,” ujarnya.
Menurut Dewo, penerimaan PLN terdiri dari pelanggan Rp 103 triliun dan subsidi pemerintah Rp 37,8 triliun. Dengan pendapatan itu, PLN berharap kenaikan margin dapat mengurangi kesenjangan antara total pemasukan dan pengeluaran.
Bapepam setuju
Dewo menambahkan, Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) telah menyetujui penambahan obligasi PLN dari Rp 1,5 triliun menjadi Rp 3 triliun. Hal ini sebagai respons atas tingginya permintaan pasar hingga beberapa kali lipat dari besar obligasi yang diterbitkan. Persetujuan diberikan pada 31 Desember lalu.
Dana dari obligasi itu diperkirakan diterima PLN pada Januari ini untuk pendanaan investasi. Obligasi itu diterbitkan dalam dua jenis, yaitu konvensional dan sukuk. Obligasi jenis konvensional sebesar Rp 920 miliar dengan tenor 7 tahun dan suku bunga 11,95 persen serta Rp 1,783 triliun dengan tenor 10 tahun dan bunga 12,55 persen.
Sementara obligasi jenis sukuk Rp 130 miliar dengan tenor 7 tahun dan imbal hasil setara 11,9 persen. PLN juga menerbitkan obligasi jenis sukuk senilai Rp 167 miliar dengan tenor 10 tahun dan imbal hasil setara 12,55 persen.
Tidak lagi terlibat
Sementara itu, Direktur Utama PT PLN Dahlan Iskan dan Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, Kamis di Samarinda, menandatangani kerja sama dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2 x 100 megawatt di Kawasan Industri Kariangau, Balikpapan.
Dahlan pada kesempatan itu menegaskan, pihaknya tidak akan terlibat lagi pada pengelolaan PLTU 2 x 25 megawatt di Tanjungbatu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kaltim. PLTU ini dikelola oleh PT Cahaya Fajar Kaltim (CFK), yang sahamnya dimiliki Grup Jawa Pos dan Pemerintah Provinsi Kaltim
Saham Jawa Pos sedang ditawarkan ke investor. ”Saya tidak berhak lagi berbicara soal CFK. Saya sudah cabut dari sana,” kata Dahlan. (osa/bro)

KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s